Survei LSI: NU Jemaahnya Naik Jadi 56,9% dan Muhammadiyah Turun Menjadi 5,7%
VISI.NEWS | JAKARTA - Kebanggaan menjadi jemaah Nahdlatul Ulama (NU) di Indonesia naik signifikan lebih dari 100%, dari 27% pada tahun 2005 menjadi 56,9% di tahun 2023. Sementara Muhammadiyah turun drastis dari 9,4% menjadi 5,7%.
Pendiri Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA, melalui akun Tik Tok-nya #dennyja_world mengatakan bahwa orang yang merasa keluarga besar NU atau yang menjadi bagian dari NU pada survei yang diumumkan pada Agustus 2005 jumlahnya hanya 27%.
"NU dan Muhammadiyah, dalam dua puluh tahun terakhir, dua organisasi ini mengalami perubahan yang sangat drastis. Untuk NU, mereka yang merasa bagian dari NU, mereka yang merasa keluarga besar NU jumlahnya bertambah banyak, bertambah banyak, bertambah banyaknya drastis sekali, " ungkapnya.
Sebaliknya, mereka yang merasa bagian dari keluarga besar Muhammadiyah berkurang banyak sekali, drastis sekali.
"Dua survei Denny JA tahun 2005 dan 2023 atau 18 tahun kemudian. Di tahun 2025 untuk NU kita tanya, bapak ibu apakah merasa jadi bagian dari organisasi massa ini. Mereka yang menjawab 'ya' sebanyak 27 persen. Kita tanyakan lagi setelah 18 tahun kemudian, yang menyatakan 'ya saya bagian dari NU' menaik menjadi 56,9 persen. Jadi, separuh dari populasi Indonesia, mereka yang menyatakan bagian dari NU baiknya dia kali lipat, " ungkap Denny.
Sebaliknya Muhammadiyah, kata Denny, yang menyatakan dan mengatakan 'ya saya bagian dari Muhammadyah' pada tahun 2005 sebanyak 9,4%.
"Tapi 18 tahun kemudian yang menyatakan hal yang sama itu hanya 5,7 persen. Turunnya drastis sekali hampir separuh," ungkapnya.
Denny melihat anjloknya pengikut Muhammadiyah karena masalah kaderisasi sehingga banyak yang merasa bukan lagi kader Muhammadiyah. "Padahal kita tahu, kita ingin Muhammadiyah sebagaimana NU bisa terus tumbuh karena dia Ormas ini mewakili dua segmen Islam moderat di Indonesia," pungkasnya.
Setelah 18 tahun jumlahnya bertambah besar, bertambah besar
saat paparan secara daring yang diakses di Jakarta, Selasa (5/9/2023). (Foto: tangkapan layar).
Pendiri Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA mengatakan bahwa jemaah Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah mengalami perubahan drastis selama kurang lebih 18 tahun terakhir. Menurutnya, keluarga besar NU mengalami kenaikan drastis selama hampir dari dua dekade terakhir, sedangkan pengikut dari Muhammadiyah mengalami penurunan.
“Mereka yang merasa bagian dari NU jumlahnya bertambah banyaknya drastis sekali. Sebaliknya mereka yang merasa bagian keluarga besar Muhammadiyah berkurangnya, berkurang sekali dan berkurangnya drastis sekali,” kata Denny dalam video yang disiarkan di YouTube Orasi Denny JA bertajuk ‘Denny JA: NU menaik, Muhammadiyah menurun, Mengapa?, dipantau di Jakarta, Selasa (5/9/2023).
Berdasarkan data yang diperoleh dari lembaga surveinya, Denny menjelaskan bahwa terjadi kenaikan yang sangat drastis dari jumlah masyarakat yang mengaku sebagai bagian dari NU. Hal ini ditunjukkan dengan persentase publik yang merasa menjadi bagian dari NU sebanyak 27,5 persen di tahun 2005 naik menjadi 56,9 persen di tahun 2018.
Baca Juga:
Antara Pro dan Kontra, PBNU Kaji Hukum Ekspor Pasir Sedimentasi
“Jadi ini jumlahnya lebih dari separuh populasi Indonesia menyatakan mereka bagian dari NU naiknya hampir dua kali lipat.” ujarnya.
Di lain sisi, jumlah masyarakat yang mengaku sebagai bagian dari Muhammadiyah mengalami penurunan dari yang semula berada di angka 9,4 persen di tahun 2005 menjadi 5,7 persen di tahun 2018.
Menurutnya, penurunan sebesar 3,7 persen ini menjadi angka yang drastis sekali karena hampir separuh mereka kehilangan pengikutnya. “Turunnya drastis sekali hampir separuh,” ungkapnya.
Baca Juga:
Sindikat Ginjal: Agama Menggugat
Lantas Denny pun menyebut proses pengangkatan calon anggota atau kaderisasi menjadi alasan utama mengapa terjadi penurunan jumlah jemaah mereka. Ia menilai proses kaderisasi tersebut menjadi masalah besar yang harus segera ditangani oleh pihak Muhammadiyah agar jumlah dari masyarakat yang mengaku sebagai pengikutnya tidak kembali mengalami penurunan.
“Dan kita ingin Muhammadiyah sebagaimana NU untuk terus tumbuh karena mereka mewakili dua segmen modern di Indonesia,” ucapnya.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!