Sunyi di Jalanan, Ketegangan Masih Menggantung: Iran Tangkap 3.000 Orang Usai Gelombang Protes
VISI.NEWS | BANDUNG — Suasana relatif tenang mulai terlihat di sejumlah kota besar Iran setelah gelombang protes anti-pemerintah yang berlangsung selama beberapa pekan mereda. Namun, di balik ketenangan itu, bayang-bayang ketegangan masih terasa kuat menyusul penangkapan massal ribuan warga oleh aparat keamanan.
Pihak berwenang Iran mengonfirmasi sedikitnya 3.000 orang ditangkap selama rangkaian demonstrasi yang dipicu oleh krisis ekonomi, inflasi tinggi, serta anjloknya nilai mata uang lokal. Informasi tersebut disampaikan melalui laporan kantor berita resmi negara.
Pada Jumat (16/1/2026), jalan-jalan utama di ibu kota Teheran dan beberapa wilayah lain tampak lengang. Aparat keamanan bersenjata terlihat berjaga di berbagai titik strategis, menandai berakhirnya aksi unjuk rasa terbuka, namun sekaligus menunjukkan pengawasan ketat negara terhadap aktivitas publik.
Melaporkan langsung dari Teheran, jurnalis Al Jazeera Tohid Asadi menggambarkan kondisi psikologis masyarakat yang masih diliputi kecemasan.
“Akses internet tidak tersedia untuk hampir semua orang di Iran,” kata Asadi.
Ia menambahkan bahwa warga khawatir situasi bisa kembali memanas sewaktu-waktu, terutama di tengah pembatasan komunikasi yang belum dicabut.
Pemantau internet global NetBlocks mencatat bahwa pemadaman internet nasional telah memasuki hari kedelapan, sejak pemerintah memutus akses jaringan pada puncak demonstrasi pekan lalu. Kebijakan ini dinilai semakin mempersempit ruang masyarakat untuk menyampaikan aspirasi dan memperoleh informasi.
Gelombang protes yang dimulai sejak akhir Desember itu dipicu oleh tekanan ekonomi yang semakin berat. Harga kebutuhan pokok melonjak, daya beli masyarakat melemah, dan nilai mata uang Iran terus terdepresiasi. Pemerintah Iran menuding adanya campur tangan asing di balik aksi demonstrasi tersebut.
Para pemimpin Iran menyebut demonstran sebagai “perusuh” dan menuduh Amerika Serikat serta Israel berperan dalam memicu ketidakstabilan. Di sisi lain, kelompok hak asasi manusia melaporkan angka korban yang jauh lebih tinggi dari versi pemerintah.
Menurut organisasi HAM, lebih dari 1.000 demonstran dilaporkan tewas sejak aksi dimulai. Sementara itu, pemerintah Iran menyatakan sedikitnya 100 anggota pasukan keamanan meninggal akibat serangan yang berkaitan dengan protes.
Meski aksi massa kini mereda, situasi Iran dinilai masih jauh dari stabil. Pemadaman internet, penangkapan besar-besaran, dan krisis ekonomi yang belum teratasi berpotensi kembali memicu gelombang ketidakpuasan publik di masa mendatang. @kanaya
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!