Sugiat Santoso Akui Punya ‘Dendam’ Konflik Agraria: Jangan Ada Lagi Petani Menyerah
VISI.NEWS | JAKARTA - Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI dari Fraksi Partai Gerindra, Sugiat Santoso, mengungkapkan pengalaman pribadinya terkait konflik agraria saat Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) bersama Ketua Kelompok Tani Padang Halaban dan sekitarnya, Rabu (18/2/2026).
Dalam rapat tersebut, Sugiat mengaku memiliki 'dendam tersendiri' terhadap persoalan konflik agraria karena keluarganya pernah menjadi korban perampasan tanah pada 1996.
“Saya memang punya dendam tersendiri, pimpinan. Karena memang keluarga kami juga mengalami hal yang sama,” ujar Sugiat dalam keterangannya.
Sugiat menceritakan, saat dirinya masih duduk di kelas 2 SMA pada 1996, rumah keluarganya didatangi satu truk aparat pengamanan perkebunan bersama TNI terkait konflik agraria. Ia menyebut tanah keluarganya dirampas oleh perkebunan negara, sementara orang tuanya sempat ditahan di Koramil karena melakukan perlawanan. Peristiwa itu, menurutnya, menjadi titik balik dalam hidupnya.
“Ketika saya kuliah pun, karena dendam ini, cita-citanya bukan mau lulus kuliah, tapi menjadi aktivis. Dan cita-cita menjadi anggota DPR itu pun lahir dari peristiwa itu,” ungkapnya.
Ia menilai perjuangan petani dalam konflik agraria kerap kandas karena lemahnya konsolidasi internal serta ketahanan perjuangan yang tidak panjang.
Dalam RDPU tersebut, Sugiat juga menyoroti minimnya kehadiran langsung petani dari Padang Halaban. Ia mengaku kecewa karena sebagian besar yang hadir justru berasal dari organisasi pendamping, bukan korban langsung.
“Saya inginnya yang hadir itu betul-betul rakyat, betul-betul petani yang memang hidup di Desa Padang Halaban. Tidak organisasi-organisasi pendamping,” tegasnya.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!