Starmer Minta Maaf atas Pengangkatan Mandelson, Tekanan Politik Meningkat di Westminster
VISI.NEWS | BANDUNG — Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menghadapi gelombang kritik tajam setelah mengakui kesalahan dalam menunjuk Peter Mandelson sebagai Duta Besar Inggris untuk Amerika Serikat. Pengakuan itu muncul setelah terungkap lebih jauh kedalaman hubungan Mandelson dengan mendiang Jeffrey Epstein, terpidana pelaku kejahatan seksual yang kasusnya menimbulkan dampak global.
Dalam pernyataan publik yang emosional, Starmer tidak hanya membela keputusannya di masa lalu, tetapi juga secara terbuka meminta maaf kepada para korban Epstein. Ia menegaskan bahwa dirinya tidak mengetahui sejauh apa hubungan antara Mandelson dan Epstein saat proses penunjukan berlangsung.
“Sudah lama diketahui publik bahwa Mandelson mengenal Epstein, tetapi tidak satu pun dari kami mengetahui kedalaman dan sisi gelap dari hubungan itu,” kata Starmer.
Dokumen yang baru dirilis menunjukkan adanya komunikasi antara Mandelson dan Epstein yang berkaitan dengan isu kebijakan ekonomi penting. Di antaranya termasuk memo pemerintah Inggris mengenai potensi penjualan aset negara serta informasi awal tentang rencana paket bailout Uni Eropa saat krisis utang melanda kawasan tersebut.
Starmer menegaskan bahwa ia merasa telah ditipu dalam proses klarifikasi hubungan tersebut.
“Saya dibohongi, benar-benar dibohongi; ini penipuan,” ujarnya. “Saya memahami kemarahan dan frustrasi anggota parlemen Partai Buruh atas apa yang terjadi… dan saya juga merasakan kemarahan serta frustrasi itu.”
Pernyataan itu muncul sehari setelah sesi tanya jawab yang panas di House of Commons, ketika Starmer mendapat tekanan bukan hanya dari oposisi, tetapi juga dari rekan-rekannya sendiri di Partai Buruh.
Kepada para korban Epstein, Starmer menyampaikan permintaan maaf secara langsung dan tanpa syarat.
“Saya minta maaf. Maaf atas apa yang telah dilakukan kepada Anda, maaf karena begitu banyak orang berkuasa telah mengecewakan Anda, dan maaf karena saya mempercayai kebohongan Mandelson dan mengangkatnya,” kata Starmer.
Mandelson sendiri telah diberhentikan dari jabatannya pada September tahun lalu setelah bukti tambahan mengenai kedekatannya dengan Epstein terungkap. Ia kini menghadapi penyelidikan kepolisian, meski tidak dituduh melakukan pelanggaran seksual dan menyatakan tidak pernah mengetahui atau menyaksikan tindak kejahatan tersebut.
Starmer juga mengatakan dirinya ingin membuka hasil pemeriksaan keamanan yang menjadi dasar penunjukan Mandelson, namun tidak dapat melakukannya karena adanya permintaan dari kepolisian agar proses hukum tidak terganggu.
“Betapapun membuat frustrasi bagi saya secara pribadi — dan memang sangat membuat frustrasi — saya tidak akan mengambil langkah apa pun, betapapun menguntungkan secara politik atau populer, yang bisa mengganggu keadilan bagi para korban,” tegasnya.
Di tengah krisis ini, pemimpin Partai Konservatif Kemi Badenoch menyebut posisi Starmer kini “tidak dapat dipertahankan” dan mendesak anggota parlemen mendukung mosi tidak percaya terhadap perdana menteri.
Meski begitu, secara politik Starmer masih ditopang mayoritas besar Partai Buruh di parlemen. Ancaman nyata terhadap posisinya baru akan muncul jika terjadi pemberontakan besar dari dalam partainya sendiri. Namun, secara moral dan politik, badai yang kini menerpa Downing Street menandai salah satu ujian terberat dalam masa kepemimpinan Starmer. @kanaya
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!