SKETSA | Waktu
Namun Einstein mengatakan waktu itu relatif, ia bisa memanjang dan memendek. Bahkan waktu bisa mundur, apabila manusia dapat bergerak melebihi kecepatan cahaya. Itulah yang terjadi dalam film “Back to the Future”. Dalam film, Michael J. Fox dapat kembali ke masa ia belum dilahirkan, masa ketika ayahnya yang masih muda dan menjadi orang yang canggung, sehingga susah mendapat cewek. Masalahnya, kalau ayahnya terus-menerus berkelakuan begitu, maka si ibu tak akan tertarik dengan sang ayah, yang berakibat mereka tidak berpacaran dan tidak menikah, sehingga Michael J. Fox tidak pernah dilahirkan.
Bagi ilmu Fisika Modern, setidaknya ada 2 kesalahan dalam cerita Back to the Future itu. Kesalahan pertama adalah Michael J. Fox tidak tunduk pada prinsip ketidakpastian Heisenberg, yang mengatakan ketika sebuah benda bergerak dalam daerah supra cahaya, maka waktu dan tempatnya tidak bisa diketahui sekaligus. Heisenberg mengatakan boleh pilih: kalau suatu benda terdeteksi waktu keberadaannya, maka posisi tempatnya tidak bisa diketahui – atau sebaliknya, seandainya posisinya diketahui maka waktu terjadinya tidak bisa dipastikan. Dalam film, Michael J. Fox bisa pergi kesana kemari dengan wujud, waktu, dan posisi yang diketahui. Setidaknya kita masih bisa melihat posisi Michael yang semula (di masa kini) ada di depan rumahnya kemudian mengendarai mobil mesin waktu dan tiba di tempat pesta di mana ayah dan ibunya bertemu (masa lalu). Itu berarti, Back to the Future masih dalam dataran Fisika Klasik, atau Fisikanya Newton, yang pergerakan waktu dan posisi masih linear.
Kesalahan kedua adalah, mengingat sebuah benda, dalam hal ini raga Michael J. Fox, bisa terbang melebihi kecepatan cahaya, maka tubuh harusnya bertransformasi menjadi foton atau paket kwantum, yang bentuknya hancur lebur. Seharusnya, Michael J. Fox ujud fisiknya sudah tidak seperti semula lagi, tidak bisa dikenali, barangkali bentuknya sudah seperti rempeyek.
Malahan dalam teori yang lebih baru, khususnya teori Loop Quantum Gravity, bukan saja materi yang diatomisasi, namun juga ruang-waktu. Menurut teori ini, tidak ada lagi ruang yang ‘berisi’ dunia, dan tidak ada lagi waktu ‘di mana’ peristiwa terjadi. Dengan itu, yang ada hanyalah proses, di mana atom, ruang, dan materi terus berinteraksi satu sama lain. Yang ada dalam eksistensi bukanlah kumpulan benda (things), namun kumpulan peristiwa (occurences). Ruang dan Waktu menjadi tidak punya hakekat tersendiri, mereka hanyalah relasional saja. Ibarat Meja dengan Kolong Meja. Kalau tidak ada Meja maka tidak ada Kolong.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!