SKETSA | Queer
Di Amerika ada istilah yang kasar pada orang yang seperti teman saya itu. Mereka menyebutnya Queer. Sebagai istilah untuk orang yang bukan heteroseksual dan bukan cisgender. Awalnya Queer diartikan sebagai “aneh” atau “eksentrik”, digunakan untuk merendahkan mereka yang memiliki hasrat atau hubungan sesama jenis di akhir abad ke-19. Pada akhir 1980-an, para aktivis queer mengklaim kembali kata tersebut sebagai alternatif yang secara sengaja dibuat provokatif dan radikal secara politis untuk komunitas LGBTQ yang lebih asimilatif. Pada abad ke-21, queer semakin sering digunakan untuk menggambarkan spektrum yang luas dari identitas dan politik seksual atau gender non-normatif. Seni queer, kelompok budaya queer, dan kelompok politik queer adalah contoh ekspresi modern identitas queer.
Tidak semua LGBTQ seperti itu, kebanyakan orang Amerika lebih suka menggunakan istilah Gay. Gay diadopsi oleh banyak pria pada pertengahan abad ke-20 sebagai sarana untuk menegaskan status normatif mereka dan menolak asosiasi apa pun dengan kewanitaan. Gagasan bahwa queer adalah istilah yang merendahkan menjadi lebih umum di kalangan pria gay setelah Perang Dunia II. Ketika identitas gay menjadi lebih banyak diadopsi di masyarakat, beberapa pria yang lebih suka mengidentifikasi diri sebagai gay mulai memarahi pria yang lebih tua yang masih menyebut diri mereka sebagai queer.
Tetapi yang jauh lebih penting untuk manusia modern, bahwa kita harus memahami gender itu bukanlah hanya dua atau biner – Male dan Female - seperti pengetahuan orang kebanyakan selama ini. Menurut situs The Burning Platform, dalam artikelnya “All 112 genders, PLUS the 71 suffixes”, saat ini sudah teridentifikasi 112 macam gender. Sehingga singkatan LGBTQ itu sudah tidak cukup lagi. Kita sendiri pun sebenarnya belum tentu 100% wanita atau 100% pria. Ada persen tertentu dalam diri kita yang perempuan mempunyai sifat maskulin, demikian pula pria – ada sekian % dalam dirinya yang mempunyai bakat feminis. Mungkin juga ada persen tertentu dalam diri kita yang sebetulnya menyukai sesama jenis, bagi yang pria mungkin kita juga pernah mengkhayal atau menginginkan memakai busana wanita atau berias seperti perempuan. Demikian pula yang wanita, ingin memotong habis rambutnya, memakai sepatu boot dan tampil macho. Tetapi keinginan itu buru-buru direpresi. Karena itu, hati-hati melekatkan orang lain dengan sebutan queer, jangan-jangan dalam diri kita ada sedikit queer.***
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!