SKETSA | Phubbing
Smartphone yang semula bertujuan menawarkan kemudahan berkomunikasi kemudian berubah visi menjadi alat untuk menawan anda. Dengan segala penawaran aplikasi yang datang terus-menerus, mengakibatkan kita tidak dapat lagi hidup tanpa benda yang satu itu. Manusia telah menjadi tawanan teknologi komunikasi. Ada yang mengamati kita setiap saat, seorang Big Brother dalam cerita George Orwell, “1984”.
Memang demikianlah adanya, setiap aplikasi yang ada pada Smartphone semuanya mempunyai fasilitas untuk memantau kemana kita pergi: Gojek, Tokopedia, Facebook, Twitter, Instagram, Booking.com, dan bahkan Peduli Lindungi sekalipun. Mudah sekali Big Brother mendeteksi kesukaan kita, suka makan apa, nonton, mijet di mana, belanja barang, bahkan aktivitas kita membaca buku atau artikel pun, mereka dapat mengetahui dengan mudah. Big Brother yang dalam cerita Orwell merupakan representasi Komunisme, di mana Negara dengan ketat mengawasi rakyatnya, sekarang merupakan representasi Kapitalisme dalam bentuk perusahaan-perusahaan raksasa yang dimiliki oleh Mark Zuckerberg (Facebook), Jeff Bezos (Amazon), dan Nadiem Makarim (Gojek).
Pada awalnya, mendeteksi pergerakan orang ditujukan untuk kegiatan kontra terorisme. Peristiwa 911 telah mengubah wajah dunia secara keseluruhan. Sejak itu manusia menjadi bercuriga satu sama lain, segala macam diperiksa: tas, koper, cairan dalam tas, charger batere, gunting kuku, jam tangan, sepatu, harus melalui mesin scanner terlebih dahulu. Beberapa bulan setelah 911, imigrasi Amerika masih kacau balau dengan peraturan dan kebiasaan baru itu, koper ditumpuk-tumpuk, tentara di mana-mana, menunggu antrian pemeriksaan barang selama berjam-jam. Suatu pemandangan yang sangat messy, berantakan - ketika saya mendarat di Bandara New York. Naik kereta cepat dari New York ke Boston yang dulu aman-aman saja, sekarang harus pakai paspor untuk membeli tiket, dan pemeriksaan sering terjadi dalam kereta api.
Namun dampak positif dari itu semua adalah rekrutmen Satpam secara besar-besaran terjadi di mana-mana. Suatu penyerapan tenaga kerja yang luar biasa besar. Hal yang terjadi secara masif di Jakarta dan banyak kota besar lainnya, apalagi setelah beberapa peristiwa bom bunuh diri melanda Jakarta. Ketika masuk hotel Grand Hyatt, kita akan diperiksa oleh barikade yang berlapis. Mula-mula mobil kita diminta berhenti dalam jarak 10 meter dari Pos Satpam, kemudian seorang Satpam datang dengan kaca spion super besar untuk memeriksa apakah pada bagian bawah mobil kita terpasang bom. Satpam yang satunya lagi memeriksa secara seksama isi dari bagasi mobil kita sambil membawa scanner yang ada lampu kelap-kelip berwarna merah. Kemudian muncul satu Satpam lagi membawa anjing masuk ke dalam mobil dan mendengus mencari sesuatu yang terkait dengan bahan peledak. Setelah semua OK, kita baru diperbolehkan masuk ke dalam lobi, itupun tas tangan dan ransel diperiksa secara seksama untuk menguji kemungkinan kita membawa bom bunuh diri.
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!