SKETSA | Orang Gila
Aristoteles mengatakan, “Tidak ada pikiran hebat yang pernah ada tanpa sentuhan kegilaan.” Sebagian manusia itu memiliki bakat ‘gila’ karena ada 4% gen Neanderthal (masalah ini saya pernah bahas panjang lebar dalam tulisan sebelumnya berjudul “Neanderthal”). Kalau tidak ada gen itu, mana mungkin Einstein punya pikiran bahwa jalur cahaya bisa bengkok karena gravitasi, Colombus berani mengarungi laut karena ia yakin bumi itu bulat sehingga benua Amerika ditemukan, bagaimana Stephen Hawking bisa berpikir alam semesta ini tercipta waktu terjadi ledakan besar atau big bang.
Menurut David C. Geary, dalam bukunya “The Origin of Mind”, orang menjadi gila karena tuntutan evolusi juga yang menginginkan menusia tidak biasa-biasa saja dalam upaya berkompetisi saat mencari nafkah. Dengan bertambahnya umur bumi, manusia menjadi semakin banyak sehingga persediaan makanan berkurang. Seleksi alam ingin sebagian dari kita menjadi gila. Kegilaan yang membuat lemah sebenarnya bukanlah niat alam, banyak masalah kesehatan mental mungkin merupakan produk sampingan dari otak manusia yang terlalu berfungsi. Ketika manusia meningkatkan teknik pengumpulan, perburuan, dan memasak mereka, ukuran populasi meningkat dan sumber daya menjadi lebih terbatas (sebagian karena kita berburu atau memakan beberapa spesies binatang hingga punah). Akibatnya, tidak semua orang bisa mendapatkan cukup makanan.
Karenanya, hubungan kooperatif sangat penting untuk memastikan akses ke makanan, baik melalui pertanian atau perburuan yang lebih strategis. Bagi mereka yang memiliki keterampilan sosial yang tumpul tidak mungkin bertahan. Dan dengan demikian, keragaman kemampuan mental baru, sekaligus kecacatan, terbentang. Tampaknya manusia modern seharusnya berevolusi menjadi bahagia dan harmonis. Tapi alam lebih peduli dengan keunggulan gen, bukan kebahagiaan, kata Geary. Akibatnya penyakit mental diidap oleh satu dari setiap empat orang dewasa di Amerika, menurut National Institute of Mental Health.
Untuk menjelaskan kerentanan kita terhadap kesehatan mental yang buruk, Randolph Nesse dalam “The Handbook of Evolutionary Psychology” membandingkan otak manusia dengan kuda pacuan: sama seperti pembiakan kuda memilih kaki kurus panjang yang meningkatkan kecepatan tetapi rentan patah. Kemajuan kognitif juga meningkatkan kebugaran dalam berkompetisi — sampai batas tertentu. Namun, mari kita lihat kondisi mental pada umumnya satu per satu. Orang dengan kepribadian agresif dan narsistik adalah yang paling mudah dikenali dan dipahami secara evolusioner, hal itu terjadi karena mereka ingin menjadi yang nomor satu.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!