SKETSA | Orang Gila

ED
Minggu, 24 April 2022 | 06:00 WIB
Bagikan
SKETSA | Orang Gila

Oleh Syakieb Sungkar

MENURUT almarhum ayah saya, “semua orang itu gila, kecuali kita”. Bapak saya memang aneh, karena kalau semua orang gila, maka kita semua harusnya ikut gila. Termasuk saya dan dia. Jadi yang dikategorikan orang gila bagi ayah saya adalah di antaranya, orang berkata ‘ya’ dalam mulut tapi sebenarnya ‘tidak’ dalam hatinya, alias pendusta atau bermuka dua. Orang yang membenarkan yang salah dan menyalahkan yang benar, orang yang bermental pengecut, tidak jantan dan tidak berani mengakui kesalahan, bahkan berusaha menghindar dari penyelidikan aparat hukum sehingga mencoba untuk kabur, orang yang gila tahta sehingga melakukan korupsi, berlaku zalim atau sewenang-wenang kepada orang lain, gila wanita sehingga berzina dianggap biasa, seks bebas, mabuk-mabukan, mengedarkan dan menghisap narkoba seakan-akan dianggap lumrah, menghina dan mencela orang lain dianggap menjadi ‘tontonan’ yang menghibur, melakukan kata-kata kasar dan tidak sopan seperti sudah menjadi ‘makanan’ sehari-hari, orang sombong dengan kekuasaan dan harta yang melimpah sehingga merendahkan orang lain, orang yang tergila-gila dengan agama, orang yang suka menyiksa binatang, zaman dulu Habibie dijuluki sebagai kegilaan pesawat, sekarang ada tokoh masyarakat yang suka memperlihatkan segala rupa acessories emas, cincin di sekujur jari, jam tangan emas, gelang emas, kalung emas untuk dipertontonkan ke khalayak dalam penampilannya di televisi, itu juga termasuk orang gila, menurut ayah saya, dan masih banyak lagi contoh-contoh lainnya. Ayah saya juga mempunyai kegilaan tersendiri, yaitu gila catur. Jadi ia suka menilai orang berdasarkan kepandaiannya main catur. Lucu ya.

Dengan berkembangnya ilmu kesehatan, sekarang orang tidak boleh lagi menyebut orang lain sebagai gila, karena gila bukanlah penyakit. Sebagai gantinya sekarang disebut sebagai Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ). ODGJ dibagi dua, yaitu gangguan mental emosional. Dan gangguan jiwa berat, yang konotasinya sama seperti Skizofrenia. Sampai sekarang, tidak sedikit orang yang menyebut ‘orang gila’ terhadap seseorang yang mengalami gangguan kesehatan mental. Padahal yang patut disebut adalah ukuran bagaimana mewujudkan keluarga yang sehat jiwa. Deddy Corbuzier pernah meminta maaf setelah ditegur karena salah menyebut orang gila (seharusnya ODGJ) dalam salah satu acaranya. Menurut Robin Nixon, dalam sebuah tulisannya, “Why We Are All Insane”, ODGJ menimpa 25 persen orang dewasa Amerika, menurut angka resmi. Tapi kenyataannya, kita semua – menurut Robin - ada sedikit ODGJ. Kita sendiri tanpa disadari suka memeriksa berulang-ulang apakah pintu sudah dikunci atau belum, sebentar-sebentar meraba kantong celana apakah dompet masih ada, atau sebentar-sebentar mengecek handphone, takut-takut ada miscall atau ditanyai oleh istri atau atasan, sedang berada di mana. Itu namanya Obsesif Kompulsif. Walau kadarnya sedikit, ternyata ada jejak ODGJ dalam diri kita.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.