SKETSA | Melukis
Cara itu cukup efektif dan hasilnya memuaskan. Selanjutnya saya tidak mau hanya sekedar meniru gambar, tetapi “menciptakan” suatu kejadian rekaan yang saya inginkan. Untuk tujuan itu, istri saya mengajarkan cara membuat design lukisan melalui photoshop di komputer. Figur-figur bisa dibrowsing dari internet dan yang cocok dicomot untuk disusun menjadi satu frame kejadiaan rekaan yang saya inginkan dan pikirkan. Sebenarnya cara itu sama saja dengan apa yang dilakukan pelukis Sudjojono. Ia memanggil anak-anaknya, istri dan juga tetangganya untuk berpose dan diskets ketika ia ingin melukis adegan tertentu, misalnya adegan pertempuran/perjuangan, yang melibatkan banyak figur dalam satu frame gambar untuk dipindahkan ke kanvas. Bedanya dengan zaman sekarang adalah pose-pose itu tidak lagi memakai bantuan anak tetangga, cukup mengambilnya dari internet. Hasil dari utak-atik photoshop itu kemudian diprint dan dipindahkan ke kanvas melalui cara grid/skala.
Namun setelah saya melakukan cara itu pada beberapa lukisan, saya kemudian tidak puas karena beberapa sebab. Pertama – membuat grid di atas kanvas itu melelahkan dan memakan waktu. Kedua – grid itu susah dihapus, walau ditimpa oleh cat berkali-kali kadang-kadang masih keluar juga bekas garis-garisnya. Kemudian istri saya mengajarkan dengan “menembak” hasil reka photoshop itu ke kanvas melalui proyektor. Saya tinggal mengikutinya saja outline dari figur-figur itu di kanvas langsung dengan cat minyak. Setelah saya melakukannya beberapa kali, saya cukup senang karena tidak perlu lagi membuat grid yang membosankan itu. Tetapi kemudian muncul lagi rasa tak puas karena beberapa penyebab. Pertama – tidak semua hasil tembakan proyektor itu cocok dengan ukuran kanvas. Kedua – seringkali gambar yang muncul di “layar” kanvas banyak yang kabur sehingga susah untuk diikuti.
Akhirnya saya meninggalkan proyektor dan langsung menyeket ke kanvas dengan cat terhadap pemandangan di depan saya atau dari hasil foto. Dan hasilnya tidak jelek. Dalam menyeket saya menggunakan cat burnt umber atau burnt sienna, dan kalau sketsnya salah akan mudah dihapus dengan tissue basah, karena kanvas saya beri dasar cat akrilik sebagai “alas” dari lukisan. Cara itulah yang saya lakukan sampai sekarang. Hasilnya cukup bagus, dapat dilihat pada karya lukis saya yang berjudul “Ibu Dirawat Lagi” (gambar 2).
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!