SKETSA | Mandalika
Dukungan terhadap Rara belakangan malah bertambah banyak. Ada seorang intelektual mengatakan bahwa apa yang dilakukan Rara itu suatu kearifan lokal yang harus dijaga dan dilestarikan. Ilmu Pawang itu sebenarnya Sains juga, hanya belum dieksplorasi lebih jauh saja penalarannya. Memang dalam filsafat ilmu, demarkasi antara sains dan non-sains sekarang sudah digugat. Alasannya, demarkasi itu selalu bisa batal kemudian, sejalan dengan perkembangan ilmu dan teknologi. Dulu misalnya, Karl Popper mengajukan prinsip falsifikasi sebagai demarkasi. Namun dengan kriteria ini, horoskop juga dapat dianggap sains karena bisa difalsifikasi. Lalu muncul Thomas Kuhn dan para gengnya, termasuk Feyerabend, dengan slogan anything goes. Kalau menurut anda pawang itu berguna dan anda percaya, ya itu juga "Sains".
Selanjutnya, pemikiran yang menarik datang dari Larry Laudan. Berdasarkan perdebatan-perdebatan tersebut, ia menghapuskan batas antara sains dan bukan-sains. Tidak ada guna, katanya. Yang perlu adalah membedakan antara reliable dan unreliable knowledge. Pengetahuan yang bisa diandalkan (karena berguna) atau tidak dapat diandalkan. Dengan kategori Laudan, maka teknik-tenik pengobatan tradisional yang terbukti efektif, misalnya akupuntur, kerokan, gurah dan lain-lain itu, akan masuk dalam kategori sains., demikian pula Feng Sui. Pawang hujan, sejauh itu reliable, boleh dong menjadi Sains. Tetapi yang jauh lebih penting bagi saya, terlepas dari soal klenik atau sains, diam-diam Mbak Rara ini sudah menjadi ikon pemasaran Mandalika, yang membuat gelar MotoGP di Indonesia tambah populer.***
- Penulis adalah seorang pengamat seni, dan pernah menjadi executive di beberapa perusahaan telekomunikasi. Ia pernah kuliah di FMIPA – Universitas Indonesia (1981), lulus dari Elektro Telekomunikasi – Institut Teknologi Bandung (1986), Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara (2020). Dan pernah membuat buku “Melacak Lukisan Palsu” (2018) dan “Seni Sebagai Pembebasan” (2022). Pernah berpameran tunggal lukisan di galeri Titik Dua, Ubud (2021), berpameran bersama di galeri Salihara bersama Goenawan Mohamad (2020). Saat ini ia menjadi Editor in Chief di Jurnal Filsafat Dekonstruksi – jurnaldekonstruksi.id
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!