SKETSA | Mandalika
Untuk urusan yang satu ini, panitia menggunakan pawang hujan. Hal unik dari pawang hujan di Mandalika adalah pawangnya perempuan, hal unik kedua adalah si pawang dapat menurunkan hujan – bukan sekedar menyetop seperti yang biasanya dilakukan pawang pada pertandingan sepakbola atau konser band. Sedangkan unik yang ketiga adalah si pawang perempuan ini menari-nari sambil memukul-mukul mangkuk logam mengelilingi lintasan, lebih mirip atraksi panggung ketimbang pawang biasa yang menyeramkan. Nama panggilan pawang itu Mbak Rara, ia mengklaim telah menggunakan gelombang Teta yang muncul dari getaran bunyi panci (ia mengistilahkan Sinimbol) yang merambat ke alam lain, lintas dimensi. Menurutnya, bunyi Sinimbol itu ekivalen dengan bunyi adzan atau lonceng gereja, untuk menyampaikan pesan ke langit. Selain Sinimbol, Rara membakar kayu dan asapnya terbang untuk memecah awan. Dikombinasikan dengan teriak, maka langit Mandalika yang tadinya telah dibuat hujan oleh Rara, sekarang dibuat panas kembali sehingga pertandingan MotoGP dapat dimulai. Penonton bertepuk tangan atas aksi Rara itu. Fantastik!
Sudah pasti berita ini menimbulkan viral di medsos. Yang fanatik langsung mengecap musyrik, haram, dan sebagainya. Sementara yang mendukung mengatakan perbuatan Rara itu eksotis, mistis, magis dan merupakan hal yang biasa dalam masyarakat tradisional Indonesia. Sebetulnya bukan masyarakat tradisional saja sih, masyarakat modern juga masih menganut kepercayaan terhadap pawang hujan. Ketika menjadi Ketua Panitia Turnamen Golf, akuntan saya yang orang bule itu mempertanyakan uang Rp 2,5 juta,- untuk biaya pawang hujan. Saya bilang ini merupakan risk management, anggap saja asuransi untuk keberhasilan turnamen. Kalau pertandingan golf tidak jadi berlangsung gara-gara hujan, kita tinggal salahkan pawang hujan karena tidak bekerja dengan baik. Tetapi, jika kamu menolak keluar biaya pawang, maka kalau acara gagal karena hujan, kamu saya laporkan sebagai penyebabnya, karena tidak mau keluar uang Rp 2,5 juta,- Akuntan tersebut akhirnya manggut-manggut.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!