SKETSA | Lynching
Dalam zaman modern, lynching mempunyai anatomi: yaitu adanya target, ada sekelompok orang yang berencana melakukan penyerangan, dan kemudian ada seorang pemicu yang memulai atau mencari gara-gara. Setelah proses itu dimulai maka kemudian massa yang tidak begitu kritis dan paham apa yang terjadi, disertai dengan fanatisme, akan ikut-ikut menyerang. Dalam kasus Ade Armando pada 11 April itu, lynching dimulai pukul 15:38. Beberapa orang massa terlihat mengawasi dan saling berbisik di antara mereka. Pemicunya adalah seorang ibu guru TK, yang tiba-tiba memaki-maki Ade. Kemudian para perencana itu mulai meringsek dan memukuli Ade sampai mengalami perdarahan di kepala bagian luar dan dalam serta luka serius di sekujur tubuh. Tidak cukup sampai di sana saja, Ade kemudian ditelanjangi. Para pelakunya saat ini sudah dicokok satu-persatu oleh Polisi.
Lynching sekarang ini adalah suatu peristiwa kriminal yang dilatari oleh paham politik. Kita mengetahui bahwa sejak 10 tahun belakangan ini Indonesia demikian terbelah dalam hal berpolitik. Bahasa politik jalanan memperkenalkan istilah Cebong dan Kampret. Dan secara statistik itu porsinya hampir sama besar yaitu sekitar 52% berbanding 48%. Angka ini didapat dari angka kemenangan Pemilu terakhir. Lucunya, para peserta Pemilu sudah saling berangkulan, dan yang kalah kemudian mendukung Pemerintahan yang terbentuk – Prabowo dan Sandiaga Uno telah diangkat menjadi Menteri-menterinya Jokowi, namun massanya di bawah tetap saja bermusuhan. Memang angka-angka prosentase itu tidak mutlak, ada yang ekstreem dan moderat, ada yang dieharder dan toleran. Namun untuk Pemilu Indonesia seterusnya, stigma Cebong-Kampret nantinya akan menjadi semacam ‘ideologi’ para pemilih, seperti pendukung Demokrat dan Republik di Amerika, angkanya juga mirip-mirip: 51 - 49.
Sedihnya, walau Pemilu sudah lama usai, tetapi semangat perang itu terus ada di masyarakat, baik secara fisik maupun dalam media sosial. Saya masih melihat banyak grup-grup WA yang mencerminkan semangat itu. Orang-orang yang tidak sepaham dalam grup akan ditendang ke luar atau mundur karena merasa tidak cocok. Menurut Emmanuel Levinas, mengumpulkan orang yang sama atau sepaham akan membuat manusia merasa nyaman dalam rumahnya (home). Sementara orang-orang yang di luar home, adalah orang yang berbeda, liyan, yang asing. Yang asing itu membahayakan karenanya harus dihancurkan.
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!