SKETSA | Karna
Oleh Syakieb Sungkar
AYAH Bung Karno menyukai Karna. Sehingga anaknya diberi nama Soekarno, Karna yang baik. Memang Karna orang yang ambigu. Ia mempunyai karakter kesatria tetapi statusnya sebagai anak kusir pedati. Hal yang menjadi handicap ketika ingin berguru kepada Dorna. Dorna hanya menerima murid dari golongan kesatria sesuai janjinya kepada Dretarastra. Padahal Karna itu adalah anak Dewa Surya dan beribu Kunti, ibu dari Yudistira, Bima dan Arjuna. Sesungguhnya Karna adalah kesatria juga, karena ia merupakan kakak tertua dari ketiga Pandawa. Tidak berhasil belajar dari Dorna, Karna kemudian belajar dari Parasurama yang tidak pelit kepada ilmu. Karna tahu bahwa Parasurama mau berbagi ilmu hanya kepada sesama Brahmana, seperti ketika ia memberikan ilmu militernya kepada Dorna. Sehingga Karna menyaru menjadi Brahmana.
Pada suatu hari, Parasurama tidur di atas pangkuan Karna. Tiba-tiba muncul seekor kalajengking menggigit paha Karna. Agar Parasurama tidak terbangun, Karna membiarkan pahanya terluka sementara dirinya tidak bergerak sedikit pun. Ketika Parasurama bangun dari tidurnya, ia terkejut melihat Karna telah berlumuran darah. Kemampuan Karna menahan rasa sakit telah menyadarkan Parasurama bahwa muridnya itu bukan dari golongan Brahmana, melainkan seorang kesatria asli. Merasa telah ditipu, Parasurama pun mengutuk Karna. Kelak, pada saat pertarungan antara hidup dan mati melawan seorang musuh terhebat, Karna akan lupa terhadap semua ilmu yang telah ia ajarkan.
Kemunculan Karna di dunia persilatan baru disadari ketika Dorna ingin mempertunjukkan hasil didikannya kepada para petinggi Astina. Di depan alun-alun Indraprasta, Dorna mengumumkan bahwa Arjuna lah muridnya yang terpandai, terutama dalam hal memanah. Begitu Dorna menyelesaikan laporan hasil pendidikannya selama ini, Karna berteriak dari pinggir lapangan, bahwa hasil sekolahnya itu palsu. Karna justru menantang Arjuna untuk adu kesaktian. Sebagaimana biasa, dalam pertandingan ada unggah-ungguh, dalam hal ini Krepa menanyakan asal-usul Karna. Adu kesaktian yang beradab apabila lawan tanding berasal dari garis kepangkatan yang sama. Ketika Karna menjelaskan dirinya adalah anak dari seorang kusir pedati, para petinggi menjadi kaget dan gusar. Sementara Kunti yang dari tadi memperhatikan Karna, justru jatuh pingsan, karena ia dapat mengenali bahwa Karna adalah anaknya hasil pertemuan dengan Dewa Surya ketika masih remaja.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!