SKETSA | John Gatto
Hal lain adalah sekolah membuat manusia distandarkan dan tingkat kecerdasannya ditentukan oleh IQ serta kepandaiannya hanya menyelesaikan soal dan tugas-tugas yang diberikan guru atau dosen. Anak dibuat berlomba-lamba lebih pintar dari temannya sekelas, bersaing demi mencapai angka tertinggi, karena dasar penghormatan kepada murid digeser menjadi sekedar nilai ujian. Yang hebat itu yang pintar. Padahal manusia itu unik - masih banyak ukuran-ukuran lain dari kehidupan yang bisa membuat orang sukses, seperti EQ (Emotional Quotient), kemampuan membujuk, bersosialisasi, menarik teman dalam kelompok, kepemimpinan, berdiskusi, serta keterampilan yang berhubungan dengan minat dan bakat masing-masing siswa. Di sekolah, orang tidak boleh menyontek, hal itu membuat egois, padahal menyontek seharusnya boleh-boleh saja, nantinya akan mendukung bagaimana ujian justru bisa menciptakan suatu studi kelompok yang guyub.
Dan itulah yang terjadi, 20% dari mahasiswa yang pandai di kelas dan selalu mendapat nilai A akan berujung menjadi dosen dan profesor yang suka minta proyek ke 40% teman-temannya yang menjadi eksekutif perusahaan atau di level Manajerial, di mana nilai rata-ratanya hanya B. Para eksekutif dan manager itu kemudian memberikan order kepada 30% temannya yang menjadi wiraswastawan di mana pendapatannya lebih banyak dari para eksekutif, padahal nilainya rata-rata cukup C saja di kelas. Yang terkaya, sukses, punya usaha sendiri, yaitu 10% sisanya, biasanya tidak berhasil lulus dan gagal mendapat ijazah, drop out dari kampus. Karena ketika mahasiswa mereka sudah sibuk mencari proyek, menjaring koneksi, dan mengumpulkan modal kerja untuk usaha besar selanjutnya di masa depan, agar menjadi konglomerat.
Karenanya, sebagai pemilik perusahaan janganlah bingung kalau mendapat pegawai yang lulus dengan nilai baik pada ijazahnya, tetapi tidak bisa kerja. Itulah paradoks sekolah. Akibat sebagian besar orang menempuh kuliah atau bersekolah tinggi hanyalah demi mendapatkan gelar dan ijazah semata. Bukan untuk dapat mempraktekkan ilmunya di lapangan. Ia menjadi gamang ketika di kantor tidak ada dosen yang membimbingnya dan memberikan soal-soal dengan rumus-rumus yang sudah tersedia.***
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!