SKETSA | Jais Darga
Oleh Syakieb Sungkar
SAYA mengenal Jais Darga ketika ia masih berpasangan dengan Didier Hamel, cowok Perancis pengelola galeri seni Duta Fine Arts di Kemang. Mereka kemudian berpisah, Jais mendapat pasangan baru, orang Perancis juga, dan kemudian ia melanglang buana menjadi art dealer karya-karya para maestro seni rupa internasional seperti Picasso, Jean-Michel Basquiat, Ju Ming, dan Chu Teh-Chun. Ketika para kolektor kelas atas Indonesia masih buta pada seni rupa internasional, mereka semua berguru dan minta tolong kepada Jais untuk dicarikan karya-karya internasional di market Eropa dan Amerika. Jais juga pernah mengadakan pameran yang menyandingkan lukisan-lukisan Jean-Michel Basquiat dengan Nashar, pelukis abstrak Indonesia di Darga gallery, galeri yang dibangunnya di Bali. Suatu pameran yang luar biasa untuk ukuran zaman dulu maupun sekarang.
Kisah hidupnya pernah dituliskan di tahun 2018 oleh Ahda Imran dalam bentuk roman autobiografi yang berjudul “Jais Darga Namaku”. Buku itu laku keras, dari 1.000 eksemplar yang dicetak KPG, hari ini hanya tersisa 6 buah saja yang masih bertengger di toko buku Gramedia. Buku itu mengisahkan 30 tahun perjalanan hidup seorang perempuan Indonesia dari kehidupan pribadinya hingga pergulatannya dalam menjejakkan diri sebagai bandar seni skala internasional. Jais Darga hidup dengan latar belakang keluarga menak Sunda, kemudian masuk dalam dunia kehidupan anak muda Kota Bandung periode 1970-an, hingga bisnis seni rupa di Paris, London, Amsterdam, New York, Singapura, dan Hongkong. Ambisinya membuatnya kemudian dikenal sebagai Madam Darga, seorang art dealer internasional di Paris. Ambisi yang membuat Jais terus mengembara ke banyak negeri jauh, sehingga ia tak bisa lagi membedakan apakah ia sedang “pergi” atau “pulang”.
Bab pertama buku itu kemudian difilmkan oleh Fourcolours Films bersama Titimangsa Foundation dengan judul “Nana”. Nana adalah nama dari ibunda Jais, yaitu Raden Nana Sunani, putri dari Raden Sastrawinata, lurah desa Cianten, Limbangan, Garut. Judul internasional film itu adalah “Before, Now & Then” dan pemutaran perdana film ini dilakukan di Festival Film Internasional Berlin pada 12 Februari 2022. Dalam festival tersebut, film ini dinominasikan penghargaan Golden Bear untuk Best Film dan Laura Basuki berhasil memenangkan Silver Bear untuk Best Supporting Performance. Film “Before, Now & Then” didistribusikan di Indonesia secara digital melalui Amazon Prime Video mulai 1 Agustus 2022. Dan Kamis kemaren, 18 Agustus 2022 dilakukan preview di Studio XXI Plaza Indonesia.
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!