SKETSA | Jais Darga
Skenario film ini ditulis oleh Kamila Andini yang sekaligus disutradarainya. Dibintangi oleh Happy Salma sebagai Nana, ibu Jais yang hidup di Jawa Barat pada era 1960-an. Nana, seorang perempuan Sunda di era 1960-an, kehilangan seorang ayah dan anak karena perang di Jawa Barat. Ia menikah lagi untuk memulai hidup baru dengan pria kaya raya, yang justru selalu merendahkannya. Sang suami juga merupakan orang yang tidak setia. Nana pun menderita dalam diam. Suatu ketika, ia bersahabat dengan Ino – yang diperankan oleh Laura Basuki - sebagai salah satu simpanan suaminya, yang membuat semuanya berubah. Mereka bersama-sama mencari harapan untuk meraih kemerdekaan hidup. Film itu dibuat dengan gaya surealistik terutama ketika menggambarkan mimpi-mimpi Nana. Dan ada sentuhan Wong Kar-wai dalam beberapa adegan, misalnya ketika Nana memakai payung bertemu kembali dengan suaminya di sebuah gang. Akting Happy dan Laura sama kuatnya, namun dalam adegan-adegan sederhana, seperti ketika sedang merokok, terlihat Laura lebih menghayati – mungkin karena Happy tidak terbiasa merokok dalam kehidupan sehari-hari. Secara keseluruhan film ini bagus dan bermutu serta enak untuk dinikmati.
Di tahun 90an, Jais memang sangat berjasa dan ‘merajalela’ dalam environment perdagangan karya seni, terutama untuk para kolektor Indonesia. Namun di tahun 2000an lanskap bisnis seni kemudian berubah setelah balai lelang internasional menyadari begitu banyak kaum berduit Indonesia, para konglomerat, yang berminat untuk mengoleksi karya-karya mahal sebagai gaya hidup jetset. Pada tahun 1995, balai lelang Christie’s membuka cabangnya di Singapura, sehingga mereka fokus menawarkan karya-karya para maestro Indonesia. Kehadiran para pembeli dari Indonesia yang segera dikenali, dicatat, untuk kemudian didekati dan difollow-up oleh para agen balai lelang tersebut agar aktif menjadi bidder. Hal itu yang kemudian dikuntit oleh balai lelang Shoteby’s sehingga mereka membangun seksi lelang khusus South East Asia di Hongkong. Tidak sekedar itu saja, mereka melakukan penetrasi ke para buyers Indonesia itu dengan mengirimkan para spesialisnya untuk menawarkan, mengajar, memberi wawasan tentang para maestro dunia. Di situlah peran Jais perlahan pudar karena para kliennya sekarang sudah pintar dan dapat memilih serta menimbang sendiri koleksi pilihannya. Tetapi di sisi lain Jais juga sudah kaya sekaligus lelah dalam bergulat di bisnis seni. Ia sekarang lebih menikmati hidupnya dengan berleyeh-leyeh di rumah mewahnya pada sebuah tepi pantai di Bali. Karenanya, untuk melihat langsung latar kehidupan Jais yang menarik itu, segeralah menonton fim ini di channel Prime Video.***
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!