SKETSA | Indra Lesmana
Demikian pula pemancar radio KLCBS di Bandung setiap waktu mengumandangkan musik jazz tanpa jeda iklan, sehingga membuat para mahasiswa stay on tune di saluran itu sambil membuat tugas kuliah. Chick Corea dan Harbie Hancock yang beraliran fusion jazz selalu muncul dalam urutan lagu KLCBS. Album Indra Lesmana “Children of Fantasy” tahun 1981 merupakan sekumpulan musik indah dengan pengaruh yang kuat dari kedua pemusik fusion jazz itu. Album tersebut dibuat ketika mereka – Jack dan Indra Lesmana – sedang rehat dari Australia dan berkunjung sejenak ke Indonesia. Tiga tahun kemudian, Indra membuat “No Standing”, album yang sama bagusnya, namun kali ini rilisnya di Amerika, yaitu di Zebra Records, perusahaan rekaman cabang dari MCA Records. Indra pindah ke Amerika Serikat tahun 1985.
Kembali ke Indonesia, Indra banyak berkolaborasi dengan musisi jazz tanah air. Misalnya dengan Gilang Ramadhan yang telah beberapa kali membuat kelompok musik dan album bersama, di antaranya mereka tergabung dalam PIG (bersama Pra Budi Dharma), Java Jazz (bersama Mates, Donny Suhendra dan Embong Rahardjo). Indra banyak terlibat dalam banyak sekali album musik. Ia mulai aktif membuat lagu sejak tahun 1976, selama 47 tahun berkarya tercatat telah menciptakan lebih dari 200 komposisi original, dan hampir 93 album, dengan 18 di antaranya merupakan album solo. Indra juga menggarap album soundtrack “Rumah Ketujuh”, yang diproduseri kakaknya, Mira Lesmana, di mana lagu-lagu dalam album tersebut pekat dengan irama main stream jazz. Selain itu, Indra pun memproduseri beberapa album artis kenamaan tanah air, seperti Titi DJ (album “Ekspresi”), Ermy Kulit (album “Saat yang Terindah”), dan Sophia Latjuba (album “Hanya Untukmu” dan “Tiada Kata”) yang kemudian dinikahinya (1992-1993).
Dalam konser tunggal Indra Lesmana 27 Agustus 2022 lalu, Indra menyiapkan 54 lagu untuk ditampilkan namun hanya dinyanyikan kurang dari setengahnya saja dalam pagelaran yang berlangsung 3 jam itu. Sisanya akan dimainkan di kota-kota lain seperti Bandung dan Surabaya. Konser dilakukan di Jakarta International Theatre, suatu gedung pertunjukan megah di kawasan Kemayoran Jakarta. Jakarta International Theatre adalah tempat yang besar dan representatif dengan kualitas akustik yang prima serta tata lampu mewah. Sehingga gedung itu sangat mendukung konser besar yang melibatkan banyak arranger seperti Tohpati dan pemain musik di panggung. Indra mengajak banyak bintang tamu dalam konser ini. Ada Eva Celia, Monita Tahalea, Lyodra, Ardhito Pramono, Teza Sumendra, Tompi, Once, Kaka Slank, Dewa Budjana, Maliq and D’essential, Java Jazz, dan ILP (Indra Lesmana Project). Taba Sanchabakhtiar menjadi Art Director, Hanny Lesmana menjadi Show Director, dan Indra Lesmana sendiri bertindak sebagai Music Director dalam rangkaian konser ini. Indra Lesmana dan Senyawa Entertainment membentuk sebuah orkestra dengan orientasi music jazz dan pop, dimana Adra Karim berperan sebagai COO. Orkestra yang berjumlah 60 orang tersebut diberi nama Indonesia Legacy Orchestra. Aksan Sjuman bertindak sebagai konduktor dalam orkestra ini.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!