SKETSA | Gitar
Beruntung ia tidak jadi seniman, sehingga di masa pandemi 2 tahun belakangan, ia terkapar juga. Proyek-proyeknya tidak dibayar, bohir beralasan investor mengundurkan diri, karena tidak mau beresiko uangnya hilang lebih banyak. Baru bayar uang muka, para investor itu sudah ngabur. Mereka berpendapat daripada uang lebih banyak lagi yang hilang, sebaiknya proyek dibuat mangkrak. Mula-mula ia setahun bertahan, tetapi akhirnya tidak kuat juga membayari pegawai yang demikian banyak, sementara perusahaan beroperasi tanpa income sama sekali. Belum lagi ketika itu tidak mendapat kejelasan kapan pandemi akan berakhir. Mengikuti jejak yang dilakukan investor, ia juga menutup perusahaan. Karyawan di-PHK dengan memberi pesangon ala kadarnya. Perusahaan itu menyatakan bangkrut demi menghindari tagihan material dan jasa konstruksi yang belum lunas.
Hanya sedikit uangnya yang tersisa Ia harus banyak berhemat. Ia berhenti pergi ke salon untuk menghindari adanya pengeluaran tambahan. Rambutnya dibiarkan panjang demi penghematan. Ia tidak pernah lagi makan di luar atau di restoran, akhirnya masak sendiri di rumah. Dan itu justru menyebabkan ia menjadi gemuk, karena tidak ada lagi yang bisa dikerjakan selain nonton TV, membaca buku, makan dan tidur. Agar hidupnya tidak monoton, uang yang tersisa kemudian dibelikan gitar, yang sedang diobral murah karena toko peralatan musik akan tutup. Sekaligus sebagai kompensasi masa remajanya yang hilang, karena dulu ayahnya merenggut paksa gitar kesukaannya. Gitar yang baru dibelinya itu dipandanginya lamat-lamat, kemudian tangannya mulai bergerak, dan cerita kembali berulang dari awal: ia bermain gitar. ***
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!