SKETSA | Gitar
Ayahnya itu mempunyai bakat seni tetapi menyembunyikannya. Si ayah selain menyukai musik klasik, ia pandai menggambar. Ketika atasannya membutuhkan seorang designer untuk produk yang akan dilaunching, ia dipanggil untuk melukis produk yang akan diluncurkan - secara probono. Terkenang ayahnya membuat design label pada botol minuman markisa dan itu terpakai dalam waktu yang lama. Ayahnya mengerjakannya dengan senang hati, walau tidak dibayar.
Ia ingat ayahnya pernah menggambar duit. Itu dikerjakannya dalam waktu 2 hari. Ketika ia ingin jajan keripik pisang, ayahnya memberikan 'uang' itu untuk dibelanjakan. Ia yang masih bocah membawa uang produksi ayahnya itu ke warung untuk berbelanja. Tentu saja terjadi kegegeran. Ayahnya tersenyum saja ketika dilaporkan uang buatannya ditolak. Kalau ayahnya dulu tidak melarang ia berkesenian, boleh jadi jalan hidupnya menjadi seniman. Bisa jadi ia kemudian hidup susah dan menjadi pekerja serabutan, misalnya. Kemudian profesi senimannya ditinggalkan karena tidak bisa menunjang kehidupan. Tetapi mungkin juga kemudian berakhir sebagai gitaris yang sukses atau pelukis terkenal.
Kenyataannya di masa pandemi yang 2 tahun itu, semua seniman terkapar. Tidak ada order. Panggung pertunjukan ditutup dan ruang pamer pada galeri seni rupa berhenti beroperasi. Ada beberapa pameran yang diselenggarakan secara daring, tetapi itu tidak nendang. Karena lukisan harus dilihat langsung, tidak bisa dengan hanya memandangi e-katalog. Ada juga pertunjukkan jazz live online, seperti Indra Lesmana memainkan keyboard, Tohpati pada gitar, dan Tompi bernyanyi. Tiketnya yang Rp 75 ribu itu terjual habis. Tetapi pertunjukkan seperti itu jarang sekali. Adapun salah satu alasannya adalah jaringan internet sering tidak bagus, IP nya suka berpindah-pindah karena tidak dedicated. Hal itu menyebabkan delay, sehingga penyatuan suara dari rumah masing-masing pemusik menjadi tidak sinkron. Karenanya seniman beramai-ramai, dengan dikomandani Butet Kertarajasa, datang ke Istana, agar kehidupan mereka bisa disupport oleh negara. Apa artinya kalau Indonesia tanpa seniman? Tidak bisa terhibur, bukan? Bayangkan Indonesia tanpa Komeng dan Cak Lontong, pastilah hidup ini terasa hambar.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!