SKETSA | G 20
Tema G20 kali ini adalah “Recover Together Recover Stronger”. Tema ini menggambarkan solidaritas Indonesia agar pemulihan ekonomi dunia akibat dampak dari pandemi selama 2 tahun ini bisa berjalan bersama-sama. Dalam tema ini, akan ada tiga isu penting yang ditekankan oleh Presiden Jokowi untuk dibahas di forum G20. Pertama mengenai aristektur kesehatan global, kedua mengenai transformasi ekonomi digital, dan ketiga mengenai transisi energi menuju ekonomi hijau. Nampaknya ketiga hal tersebut merupakan tema berat yang sulit direalisasikan dalam waktu setahun. Belum lagi perhelatan G20 terombang-ambing karena perang Rusia-Ukraina.
Amerika membujuk anggota G20 untuk tidak mengundang Rusia di forum G20. Tetapi Indonesia sebagai Ketua G20 tetap mengundang, berlaku sebagai negara netral. Hal yang sama dilakukan Indonesia ketika PBB ingin menjatuhkan sangsi kepada Rusia, dalam Perang Ukraina, Indonesia tetap mengambil posisi netral. Walau akhirnya kalah suara, Indonesia terus menunjukkan posisinya sebagai negara non blok. Namun ada hal lain di samping urusan menunjukkan netralitas Indonesia, yaitu Indonesia terus mengharapkan limpahan minyak dan gandum murah dari Rusia. Jadi, memang sebaiknya Indonesia bermanis-manis dengan Rusia ketika hidup sedang susah akhir-akhir ini.
Terlihat Amerika jengkel dengan Indonesia, karena secara sadar mencoba berjarak dengannya. Indonesia kontemporer sangat mempertimbangkan China yang jaraknya lebih dekat dan uangnya lebih banyak. Di Asia Pasifik, peran Amerika sudah tidak diperhitungkan. Filipina misalnya, dengan berani pemimpinnya mencacimaki Amerika. Kalau di zaman dahulu pemimpin model begitu buru-buru dijatuhkan oleh CIA, tetapi sekarang terlihat Amerika tidak berkutik. Demikian pula negara-negara kecil di Pasific, seperti Solomon, misalnya. Mereka mengizinkan negerinya yang seupil itu menjadi pangkalan Armada Laut China. Hal itu membuat gusar Australia dan Selandia Baru. Mereka mengadu ke Amerika pun tidak ditanggapi, karena sekarang Joe Biden sedang fokus memikirkan Ukraina. Belum lagi negara-negara Timur Tengah, termasuk Arab Saudi, perlahan-lahan sudah masuk dalam magnet China yang siap dengan bantuan teknologi dan ekonomi. Bagaimana kalau China ternyata menawarkan juga cewek Cungko ke Timur Tengah? Pasti tawaran yang sulit ditampik oleh orang Arab. Dampak bagi Indonesia adalah pasaran kawin kontrak di Puncak menjadi sepi.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!