SKETSA | Di Tengah-tengah
Melihat keadaan ini, Abu Umayyah bin Mugirah dari suku Makzum, sebagai orang yang tertua, mengajukan usul bahwa yang berhak meletakkan Hajar Aswad di tempatnya adalah orang yang pertama sekali memasuki pintu Safa keesokan harinya. Ternyata orang itu adalah Muhammad yang ketika itu belum menjadi rasul. Dengan demikian, dialah yang paling berhak untuk meletakkan Hajar Aswad itu di tempatnya.
Akan tetapi dengan keadilan dan kebijaksanaannya, Muhammad tidak langsung mengangkat Hajar Aswad itu. Nabi melepaskan serbannya dan menghamparkannya di tengah-tengah anggota kabilah yang ada. Hajar Aswad lalu diletakkannya di tengah-tengah serban itu. Nabi kemudian meminta para ketua kabilah untuk memegang seluruh tepi serban dan secara bersama-sama mengangkat serban sampai ke tempat yang dekat dengan tempat diletakkannya Hajar Aswad. Nabi sendiri memegang batu itu lalu meletakkannya di tempatnya. Tindakan Nabi ini mendapat penilaian dan penghormatan yang besar dari kalangan ketua kabilah yang berselisih faham ketika itu.
Ada lagi pelajaran berharga kalau kita dalam posisi di tengah, yaitu kita belajar bertoleransi. Karena dengan toleransi kita akan mendengarkan dan mempelajari pendapat orang untuk kemudian didialogkan. Dengan itu kita akan mendapat pengertian bersama dan saling memahami problema masing-masing. Dari sana kita juga paham bahwa selama yang diurus adalah masalah dunia, maka tidak ada kebenaran yang mutlak, semuanya relatif. Relatif terhadap waktu, maksudnya saat itu barangkali keputusan kita benar, namun dalam perspektif waktu bisa saja di kemudian hari pendapat kita itu salah. Juga relatif dari sisi pengetahuan yang kita miliki pada saat itu. Di lain hari dengan adanya tambahan informasi dan pengetahuan, kita bisa evaluasi kembali pendapat yang saat itu kita yakin benar. Sehingga apa yang kita putuskan pada hari ini sebenarnya keputusan praktis yang mengkonsider semua pihak dan kepentingan sesaat.
Waktu saya muda dahulu, saya sangat jengkel dengan sikap seperti itu. Suatu sikap yang kompromistis dan terkesan cari aman. Tetapi pengalaman membuktikan bahwa cara kompromi seperti itu yang paling sedikit "error"-nya, — karena sebelum mengambil keputusan, kita sudah mengkaji dan menganalisa semua pendapat. Seandainya cara itu ternyata masih salah juga, toh kita semua sudah mahfum bahwa kebenaran itu relatif, manusia tidak luput dari kesalahan. Dan cara kompromi seperti ini yang paling sedikit menimbulkan friksi.
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!