SKETSA | Citarum
Ikan tertinggal di Citarum yang dapat hidup saat ini adalah jenis yang kuat terhadap pencemaran, yaitu ikan-ikan jelek rupa seperti jambal dan sapu-sapu. Ikan itu setiap hari mandi limbah pewarna tekstil dan logam-logam berbahaya seperti Timbal, Mangan, Chrom, Tembaga, Besi, serta Merkuri, limbah kotoran ternak, limbah kertas, limbah plastik, limbah pestisida dan limbah rumah tangga, serta limbah kotoran manusia. Itu pun kita harus berhati-hati karena ada kemungkinan banyak terdapat logam berat dalam daging ikan tersebut sehingga akan membahayakan tubuh manusia kalau kita memakan ikan yang tercemar. Bisa dibayangkan kalau tiba-tiba tubuh kita dapat bercahaya di malam hari gara-gara terlalu banyak termakan limbah logam. Semua limbah itu berasal dari 500 pabrik yang berdiri di sekitar Ciliwung, dan 80% dari mereka tidak punya Instalasi Pengolah Limbah (IPAL), sehingga seenaknya membuang limbah ke Citarum.
Perlu Kerja Keras
Menghadapi deforestasi dan pabrik pencemar, perlu kerja keras, disiplin dan ketegasan. Mungkin levelnya lebih ditingkatkan dari sekedar persuasi menjadi tindakan ke ranah hukum. Hal itu perlu keseriusan dan koordinasi lintas disiplin, agar program-program terkait pembersihan dan pengendalian banjir Ciliwung dapat terlaksana dengan baik. Untuk itu, sekali lagi yang perlu diingat adalah RK harus mengurangi pencitraan via medsos. Kerja sinkronisasi dan sinergi itu memakan waktu, membutuhkan keihklasan, perlu pengawasan ketat (termasuk juga memeriksa, mengawasi, memberi peringatan dan menutup pabrik-pabrik pencemar), serta tanpa pamrih. Karena kalau gagal, Baleendah akan menjadi kolam rekreasi sepanjang tahun, taman hiburan untuk anak kompleks berenang di air kotor bercampur limbah berbahaya. ***
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!