SKETSA | Buya
Cendekiawan muslim Adian Husaini mengkategorikan Ahmad Syafii Maarif sebagai tokoh Muhammadiyah pendukung gagasan Islam Liberal (neomodernisme) yang diusung oleh Fazlur Rahman. Adian mencatat bahwa Syafii memuji setinggi-tingginya Fazlur Rahman yang merupakan dosennya. Ia juga mencatat penyataan Syafii pada 2001 yang menolak kembalinya Piagam Jakarta ke dalam konstitusi. Zuly Qadir mencatat Syafii dan Hasyim Muzadi menolak pemberlakuan syariat Islam secara formal di Indonesia. Syafii ditulis oleh Budi Handrianto sebagai kelompok senior dalam buku berjudul “50 Tokoh Islam Liberal Indonesia: Pengusung Ide Sekulerisasi, Pluralisme, dan Liberalisasi Agama.” Budi Munawar Rachman mengelompokkan Syafii termasuk ke dalam golongan neo-modernis Islam bersama Nurcholish Madjid dan tokoh-tokoh lainya.
Muhamad Afif Bahaf menuliskan bahwa gerakan Islam Liberal tumbuh subur di Muhammadiyah semasa dipimpin Syafii. Hal ini ditandai dengan berdirinya tiga komunitas intelektual yaitu Pusat Studi Agama dan Peradaban (PSAP), Maarif Institute, dan Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM). Pada November 2016, ia membela Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dengan mengatakan bahwa Ahok tidak melakukan penistaan agama. Pandangannya ini melawan pendapat mayoritas tokoh Islam lainnya termasuk Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang telah memfatwakan bahwa Ahok melakukan penistaan agama islam dan para ulama.
Maarif Institute yang didirikan (2002) ketika ia menjadi Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah (1998-2005) itu, kegiatan utamanya adalah menjelajahi pemikiran keislaman yang toleran, kultural, ilmiah dan berwawasan ke depan, sejalan dengan corak pemikiran Buya Syafii Maarif. Ketika banyak orang menyumbang Institute, sumbangan itu ia alirkan ke organ-organ afiliasi Muhammadiyah dengan alasan ia menganggap orang-orang itu menyumbang karena ia Ketua Muhammadiyah, bukan karena ia Ketua Yayasan Maarif. Buya tidak mau terjadi conflict of interest. Ketika ia tidak lagi menjabat sebagai Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, sumbangan dilaporkan penggunaannya lengkap dengan bukti pengiriman uang atau tanda terima dari orang-orang yang dibantunya untuk segala keperluan seperti — penulisan disertasi, bantuan untuk biaya sekolah anak, perbaikan bangunan milik Muhammadiyah. Ia tak memetik sepeser pun dari sumbangan-sumbangan itu. Buya Syafii menerapkan doktrin Kiai Ahmad Dahlan: “Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari penghidupan di Muhammadiyah.”
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!