SKETSA | BHARADA E

ED
Minggu, 31 Juli 2022 | 09:03 WIB
Bagikan
SKETSA | BHARADA E

Oleh Syakieb Sungkar

SETELAH lebih dari 3 minggu Brigadir J atau Nopryansah Yosua Hutabarat mati ditembak, masih belum ada tersangka pembunuhnya. Bagaimana tidak, Brigadir Yosua ditembak oleh pistol Glock 17, di mana pistol jenis Glock itu menurut Bambang Rukminto, peneliti dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) bidang kepolisian, adalah senjata standar milik para Jendral. Sehingga seorang Bharada bisa menggunakan senjata Glock untuk membunuh orang adalah suatu kejanggalan. Pangkat Bharada atau Bhayangkara Dua merupakan sebuah pangkat yang terendah pada golongan pertama (I) atau golongan Tamtama yang terlihat dari garis miring yang berwarna merah pada seragamnya. Senjata standar seorang Tamtama adalah senjata laras panjang ditambah sangkur, bukan Glock.

Harusnya yang diperiksa oleh Kapolres Jakarta Selatan yang ketika itu dijabat oleh Kombes Budhi Herdi adalah identitas kepemilikan dari pistol tersebut. Kalau ternyata kemudian mengarah ke Kadiv Propam, Irjen Ferdy Sambo, sebagai tuan rumah TKP, akan repot. Karena secara kepangkatan Irjen Ferdy Sambo jauh lebih tinggi dari Kapolres Jakarta Selatan. Demikian pula secara struktur jabatan, Kadiv Propam itu adanya di Mabes Polri, Pusat, sementara Polres itu levelnya kotamadya, ada gap beberapa level antara Kapolres dengan Kadiv. Karenanya, Kapolres Jakarta Selatan ketika itu kemudian menelan mentah-mentah penjelasan Ferdy Sambo bahwa yang membunuh Yosua adalah Bharada E.

Hal lain yang ditelan oleh Kapolres adalah alasan Yosua ditembak karena ia melecehkan Putri Candrawathi, istri dari Ferdy Sambo. Kalau Putri memang dilecehkan harusnya ia diperiksa pada bagian mana anggota tubuhnya yang dilecehkan itu. Pakaian dalamnya juga diambil sebagai barang bukti, demikian pula pakaian dalam dari Yosua, termasuk ceceran sperma yang bisa diambil sebagai sampel. Karena urusan pelecehan itu bukan sekedar kata-kata, tetapi harus ada buktinya. Pelecehan itu ada hubungannya dengan relasi kuasa, artinya orang yang statusnya atau pangkatnya lebih tinggi yang biasanya melakukan pelecehan pada orang yang kekuasannya lebih rendah. Sementara Yosua hanyalah seorang bawahan yang sudah memiliki kekasih pujaan hati, untuk apa ia melecehkan seorang ibu yang telah melahirkan 4 orang anak? Kalau seseorang mengatakan “saya telah dilecehkan” tetapi hanya kata-kata saja tanpa bukti, itu adalah fitnah.

Halaman :

1 2

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.