Serunya Para Dosen FIK Telkom University Jadi Chef di Puncak Acara Ramadan Ceria
Sebagai bentuk rasa syukur dari keluarga besar FIK, digelar juga sebelumnya berbagi takjil kepada masyarakat, pemberian donasi ke masjid-masjid terdekat, pembagian sembako kepada masyarakat, dan kepada anak-anak yatim-piatu dari rumah Tahfiz Yatim Dhuafa Baiturrahim, yang dalam pelaksanaan donasinya dikelola oleh Laziz Masjid Kampus Syamsul Ulum.
Acara ini juga merupakan acara kebersamaan di bulan Ramadan, sebelum para dosen, pegawai dan staf kampus Telkom University memasuki persiapan masa cuti, dan mudik bersama, mulai tanggal 19 April, pekan depan, sesuai jadwal cuti bersama seperti anjuran pemerintah.
Ketua panitia pelaksanaan acara Ramadan Ceria, Isnan Purnama kepada VISI.NEWS menyatakan," Acara ini merupakan acara kebersamaan yang semua panitianya dari berbagai unsur, baik dosen dan pegawai FIK semuanya".
Bulan Transformasi
Pada kajian Ramadan Ceria, penceramah Dr. Ir. Agus Achmad Suhendra, M.T. membawakan tema, "Ramadan Sebagai Bulan Transformasi Diri Menuju FIK Jawara."
Ia menyampaikan tausiah terkait puasa Ramadan memiliki yang memiliki keutamaan, diantaranya, sebagai ujian yang hanya bisa di sambut oleh orang yang memiliki iman. "Hanya orang yang berimanlah yang bisa melaksanakan puasa, dan itu merupakan bentuk eksaminasi kesungguhan keimanan kita, bahwa iman itu tidak berhenti di tataran bicara, tapi harus di implementasikan. Artinya orang yang beriman itu tidak sebatas di mulut saja, tapi harus ada ujian keimanan, karena Allah sangat benci sekali pada mereka yang hanya bicara saja, tanpa bisa mengimplementasikannya".
Jika kita ingin mengaktualisasikan nilai nilai spiritual, katanya, FIK juara ini jangan berhenti di slogan, tapi harus diimplementasikan dan dijalankan, harus diperbuat, dan harus di wujudkan. "Karena kita mengacu pada keimanan yang sesungguhnya, aktualisasinya," ujar Agus.
Makna dari bukan Ramadan itu, katanya lebih lanjut, sebagai bulan transformasi, yang mengharuskan kita sampai pada laallakum tattaqun. Yang menunjukan kualitas yang berbeda, puasa itu mengantarkan kita pada transformasi dari mukmin ke mutaqien. "Dan proses transformasi harus di jalani dengan menskenariokan diri kita, harus sampai ke manusia muttaqien, yang bukan konsep abstrak tapi di implementasikan ke operasional variabel, dan dimensi variabel itu ada tiga, iman, Islam, ikhsan. Indikator dari taqwa, beriman pada yang ghoib, menegakkan salat, dan dia menyisihkan rezekinya, berzakat, mengimani Al Qur'an, dan yakin pada akhirat.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!