Serangan Israel Guncang Pusat Beirut
Kesedihan juga dirasakan Mahmoud Kassem, pengungsi lain yang berada di lokasi kejadian. Dengan suara lirih ia mengatakan, “Hati saya sudah mati.”
Sejak operasi militer Israel meningkat pekan lalu, wilayah selatan dan timur Lebanon terus digempur. Kawasan pinggiran selatan Beirut yang dikenal sebagai basis kuat Hezbollah juga menjadi sasaran serangan intensif. Pemerintah Lebanon melaporkan sedikitnya 687 orang telah tewas akibat serangan tersebut, termasuk 98 anak-anak, 62 perempuan, dan 18 tenaga medis.
Serangan yang meluas juga memicu gelombang pengungsian besar. Otoritas Lebanon menyebut lebih dari 800.000 orang telah meninggalkan rumah mereka setelah Israel memerintahkan evakuasi di sejumlah wilayah. Pada Kamis, militer Israel kembali mengeluarkan peringatan agar warga meninggalkan area tambahan di selatan Lebanon. Dengan keputusan itu, perintah evakuasi kini mencakup sekitar sepersepuluh wilayah negara tersebut.
Menteri Pertahanan Israel Israel Katz mengatakan pemerintahnya bertekad menjamin keamanan wilayah utara Israel yang berbatasan dengan Lebanon.
“Kami berjanji memberikan ketenangan dan keamanan bagi komunitas di wilayah utara, dan itulah yang akan kami wujudkan,” katanya dalam pertemuan dengan pejabat militer senior.
Sementara itu, Kepala Staf Militer Israel Eyal Zamir menegaskan operasi militer akan berlangsung dalam jangka panjang.
“Operasi ini tidak akan singkat. Kami akan membawa lebih banyak pasukan dan kemampuan militer ke wilayah utara. Kami akan terus bergerak maju,” ujarnya.
Konflik terbaru ini bermula setelah Hezbollah mulai menembakkan roket ke wilayah Israel pada 2 Maret. Kelompok tersebut menyatakan serangan itu dilakukan sebagai bentuk balasan atas pembunuhan pemimpin tertinggi Iran. Sejak saat itu, Hezbollah terus meluncurkan roket dan drone hampir setiap hari.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!