Sekolah Rusak Akibat Banjir Bandang Mulai Dibangun Februari 2026, Ini Rencana Pemerintah

Desi Rossilawati
Senin, 15 Desember 2025 | 12:30 WIB
Bagikan
Sekolah Rusak Akibat Banjir Bandang Mulai Dibangun Februari 2026, Ini Rencana Pemerintah

VISI.NEWS | BANDUNG - Pemerintah menargetkan pembangunan kembali sekolah-sekolah yang rusak akibat banjir bandang di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat mulai dikerjakan pada Februari 2026. Upaya tersebut dilakukan seiring proses pendataan kerusakan satuan pendidikan yang masih berlangsung.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengatakan, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) tengah memverifikasi data sekolah terdampak beserta tingkat kerusakannya sebelum pembangunan fisik dimulai.

"Mudah-mudahan di Februari 2026 itu sudah kami mulai pembangunan sekolah-sekolah yang rusak," tuturnya dikutip dalam keterangannya, Senin (15/12/2025).

Saat ini, Kemendikdasmen masih terus menghimpun data terkait sekolah yang terdampak bencana lengkap dengan skala kerusakannya. Sebelumnya, per 7 Desember 2025, tercatat 2.798 satuan pendidikan rusak dengan tingkat kerusakan beragam.

Selain itu, sebanyak 208 ribu siswa dan 19 ribu guru serta tenaga kependidikan (tendik) menjadi korban terdampak secara langsung. Melihat keadaan ini, Kemendikdasmen menegaskan tiga kebutuhan utama dalam proses pemulihan pasca bencana. "Yaitu penyediaan ruang kelas darurat, perlengkapan belajar bagi siswa, serta layanan dukungan psikososial untuk mempercepat kesiapan peserta didik mengikuti pembelajaran dalam situasi darurat," kata Mu'ti.

Pembelajaran Darurat Lewat 3 Skema

Meski banyak gedung sekolah yang rusak, pemerintah telah mengeluarkan kebijakan pelaksanaan pembelajaran darurat sejak 8 Desember 2025 lalu. Ada tiga skenario yang ditetapkan, yaitu: 1. Pembelajaran Darurat 0-3 bulan

Pembelajaran darurat 0-3 bulan ditujukan bagi sekolah yang terdampak, tetapi masih memiliki ruang kelas yang layak pakai. Dengan demikian, kegiatan belajar mengajar masih bisa diselenggarakan. Mendikdasmen menyebut sekolah yang menerapkan skenario pembelajaran darurat ini akan memberlakukan sistem belajar bergantian (shift). Proses belajar mengajar dijalankan sekaligus pemerintah memperbaiki kerusakan pada sekolah tersebut. Pada tiga bulan pertama ini, fokus pembelajaran diarahkan pada penyederhanaan kurikulum, ketersediaan bahan belajar darurat, pembelajaran adaptif di ruang terbatas, dukungan psikososial, hingga asesmen sederhana yang menekankan keamanan dan keterlibatan murid. 2. Pembelajaran Darurat 3-12 bulan

Halaman :

1 2

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.