Sedekah Kalahkan Haji? Kisah Ulama Ini Bikin Tersentak
Ilustrasi. /visi.news/ai
Merasa heran, Ibnu Al-Mubarak mendatangi anak itu dan menanyakan alasannya mengambil bangkai. Jawaban sang anak membuatnya terdiam.
ÙØ¬Ø§Ø¡ ÙØ³Ø£Ù„ها عن أمرها وأخذها الميتة، Ùقالت: أنا وأخي هنا ليس لنا شيء إلا هذا الإزار، وليس لنا قوت إلا ما يلقى على هذه المزبلة، وقد ØÙ„ت لنا الميتة منذ أيام، وكان أبونا له مال ÙØ¸Ùلم وأخذ ماله وقتل
Artinya: “Ia bertanya kepada anak itu tentang keadaannya. Anak itu menjawab: ‘Aku dan saudaraku tidak memiliki apa-apa selain pakaian ini. Kami tidak punya makanan kecuali dari tempat sampah ini. Bahkan bangkai telah menjadi halal bagi kami sejak beberapa hari lalu. Ayah kami dulu kaya, tetapi ia dizalimi, hartanya dirampas, dan ia dibunuh.’â€
Mendengar kisah pilu tersebut, hati Ibnu Al-Mubarak terguncang. Ia menyadari bahwa di hadapannya ada kebutuhan mendesak yang jauh lebih prioritas daripada perjalanan hajinya. Tanpa ragu, ia memutuskan untuk membatalkan niat berhaji dan mengalihkan seluruh bekalnya untuk membantu anak tersebut.
ÙØ£Ù…ر ابن المبارك برد الأØÙ…ال، وقال لوكيله: كم معك من النÙقة؟ قال: أل٠دينار، Ùقال: عد منها عشرين ديناراً تكÙينا إلى مرو وأعطها الباقي، Ùهذا Ø£ÙØ¶Ù„ من ØØ¬Ù†Ø§ ÙÙŠ هذا العام، ثم رجع
Artinya: “Ibnu Mubarak memerintahkan agar barang-barang dikembalikan. Ia bertanya: ‘Berapa bekal kita?’ Dijawab: ‘Seribu dinar.’ Ia berkata: ‘Sisakan 20 dinar untuk perjalanan pulang, dan berikan sisanya kepada anak itu. Ini lebih utama daripada haji kita tahun ini.’ Lalu ia pun pulang.â€
Keputusan ini bukan berarti meremehkan ibadah haji, melainkan menunjukkan kepekaan luar biasa terhadap kondisi sosial. Dalam situasi tertentu, membantu nyawa yang terancam dan mengentaskan penderitaan bisa menjadi amal yang lebih mendesak dan bernilai tinggi.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!