Saya Senang dengan Pepohonan, Namun Butuhkan juga Keanekaragaman Hayati di Kota Kita

ED
Senin, 20 Mei 2024 | 15:29 WIB
Bagikan
Saya Senang dengan Pepohonan, Namun Butuhkan juga Keanekaragaman Hayati di Kota Kita

Perancangan perkotaan yang peka terhadap keanekaragaman hayati mengharuskan pengembang, arsitek, dan perancang perkotaan untuk memikirkan sejarah suatu lokasi, kondisinya saat ini, dan potensi untuk memulihkan, atau mengembalikan alam — yang diringkas sebagai masa lalu, masa kini, dan potensi suatu lokasi.

Misalnya, suatu lokasi mungkin tidak memiliki pepohonan (saat ini)  tetapi mungkin pernah mendukung ekosistem yang terancam punah (di masa lalu) dan berpotensi terhubung kembali dengan sisa vegetasi di dekatnya sehingga memberikan peluang bagi satwa liar untuk kembali (potensial).

Menetapkan tujuan yang jelas adalah langkah selanjutnya, misalnya mengembalikan spesies yang punah secara lokal, atau membuat sungai setempat 'dapat direnangi' lagi. Setelah tujuan ditetapkan, desain dapat dikembangkan untuk menyediakan sumber daya guna mendukung spesies target, termasuk vegetasi, air, dan habitat bersarang.

Desain dapat memitigasi ancaman, misalnya melalui pencahayaan yang ramah terhadap satwa liar, kaca yang sensitif terhadap burung, jalan di bawah atau di atas jalan; dan menciptakan konektivitas ekologis yang memungkinkan satwa liar bergerak melintasi suatu lokasi.

Langkah tambahan yang penting adalah merancang 'isyarat untuk peduli' – mendorong masyarakat untuk terlibat secara positif dengan alam di perkotaan dan menjadi penjaga keanekaragaman hayati yang aktif.

Ada potensi besar untuk menggunakan agenda penataan kota untuk menciptakan rasa tempat dan identitas di kota, dibandingkan menerima homogenisasi wilayah perkotaan di seluruh dunia.

Lebih jauh lagi, menyoroti keanekaragaman biokultural dalam penataan ulang perkotaan – alam yang menekankan penggunaan tanaman secara tradisional atau makna budaya satwa liar – dapat membangun pengetahuan dan rasa hormat terhadap pengelolaan dan budaya lahan masyarakat adat atau tradisional, termasuk tanaman obat dan cerita budaya tentang satwa liar.

Di Surabaya, misalnya, penghijauan perkotaan dengan menggunakan makanan tradisional dan tanaman obat juga dapat menjadi sumber pendapatan bagi warganya.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.