Satu dari 10 Orang Penderita Diabetes Mengalami Neuropati Periferal, Sedangkan 80% Pasien belum Terdiagnosis

ED
Sabtu, 27 Mei 2023 | 07:32 WIB
Bagikan
Satu dari 10 Orang Penderita Diabetes Mengalami Neuropati Periferal, Sedangkan 80% Pasien belum Terdiagnosis

Prof. Dr Satish V Khadilkar, Ahli Neurologi Ternama, Profesor, dan Head, Department, Neurology, Bombay Hospital Institute of Medical Sciences, Mumbai, India, berkata, "Diagnosis Neuropati Periferal merupakan kebutuhan yang belum banyak terpenuhi. Jika tidak didiagnosis dan diobati pada tahap awal, NP biasanya menjadi rasa nyeri neuropati yang mengakibatkan beberapa komorbiditas sehingga berdampak drastis pada kualitas hidup, kehidupan sosial, serta pekerjaan pasien. Gangguan kesehatan ini termasuk depresi, gangguan tidur, dan rasa cemas yang berlebihan. Maka, pengobatan tambahan juga diperlukan pasien dan menambah beban ekonomi pasien. NP diabetes yang terasa nyeri sangat mengganggu status pekerjaan dan produktivitas kerja. Di antara pasien NP yang masih bekerja, 59% merasa kurang produktif ketika bekerja."

Menurut Dr. Ankia Coetzee, Dokter Spesialis Endokrin, University of Stellenbosch, Faculty of Medicine and Health Sciences, Cape Town, Afrika Selatan, "Setiap interaksi dengan pasien menjadi kesempatan bagi dokter di fasilitas kesehatan tingkat pertama untuk mendiagnosis neuropati7]. Karena beberapa pasien mungkin kesulitan menggambarkan gejalanya dengan tepat, dokter dapat menempuh langkah awal dan secara proaktif memeriksa ciri-ciri NP, seperti rasa kebas, sensasi tertusuk dan kebas, nyeri, serta rasa perih dan tersetrum. Beberapa tes sensori juga mudah dilakukan hanya dalam beberapa menit, seperti tes persepsi vibrasi, tes tusukan jarum ('pin prick test'), tes 'monofilament', dan lain-lain sebagai panduan diagnosis, sedangkan, tes laboratorium dapat menyempurnakan diagnosis tersebut."

Dr. Inna Eiberger, Global Medical Director, P&G Health Nerve Care Franchise, berkata, "Vitamin 'Neurotropic B' berperan penting untuk kesehatan saraf dan membantu regenerasi saraf. Vitamin B1 juga menyediakan energi untuk saraf, sedangkan, vitamin B6 membantu transmisi sinyal pada saraf. Di sisi lain, vitamin B12 turut membantu regenerasi saraf. Riset 'in-vitro' yang dilakukan P&G Health menunjukkan, ketika Vitamin B1, B6, dan B12 ditambahkan pada kultur saraf dengan sel saraf sehat, panjang sel neurit bertambah 124%. Sementara, luas tubuh sel secara total meningkat hingga 55%. Jaringan saraf pada sel yang diperkaya dengan vitamin B1, B6, dan B12 juga bertambah dua kali lipat. Eksperimen 'in-vitro' lebih lanjut juga membuktikan, Vitamin B1, B6, dan B12 membantu pemulihan sel saraf setelah mengalami kerusakan."

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.