Saat Veto AS Hentikan Resolusi Damai DK PBB
VISI.NEWS | JAKARTA - Perang yang terjadi antara Hamas (Palestina) dengan Israel sampai hari ini masih terus berlangsung. Serangan biadab zionis Israel terhadap warga sipil Gaza telah mengusik rasa kemanusiaan hampir seluruh umat manusia dari berbagai belahan dunia. "Hal ini dibuktikan dengan demontrasi yang terjadi dimana – mana. Rasa kemanusiaan semakin terusik ketika warga sipil, khususnya anak – anak dan wanita dibombardir tanpa pilih - pilih. Bahkan pemukiman penduduk, kamp pengungsian, sekolah - sekolah hingga rumah sakit diluluhlantakan dengan sangat brutal. Kejadian ini dilakukan secara terang benderang dan diketahui oleh seluruh umat manusia melalui berbagai pemberitaan yang terjadi “, ujar Pemerhati Internasional Dede Farhan Aulawi kepada VISI.NEWS di Jakarta, Sabtu (9/12/2023).
Menurutnya, kebiadaban zionis Israel ini nampaknya tidak bisa dihentikan hanya dengan teriakan demonstrasi di kota – kota besar dunia. Masyarakat dunia nampaknya tidak berdaya menyaksikan kebiadaban yang terjadi di depan matanya. Seolah bentuk sebuah pengakuan bahwa kita dan mereka hanya bisa mengecam, mengutuk, atau hanya sekedar menyesalkan. Tanpa bisa berbuat apa – apa. Perjuangan diplomasi memang sudah, sedang, dan terus dilakukan oleh beberapa negara, termasuk Indonesia yang sejak awal sampai saat ini masih konsisten membela kemerdekaan Palestina. Hal ini sejalan dengan amanat konstitusi yang menyatakan bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.
Hak Veto
Di saat banyak negara yang mendesak agar DK PBB segera mengambil tindakan tegas berupa resolusi penghentian perang Israel-Palestina, khususnya di jalur Gaza tetapi AS menggunakan hak veto-nya untuk menentang resolusi tersebut. Hal ini tentu membuat masyarakat dunia yang cinta damai menjadi marah dan sangat menyesalkan sikap dan tindakan AS tersebut. Dari fakta ini sebenarnya menggugah kesadaran kolektif masyarakat dunia tentang arti sebuah RASA KEMANUSIAAN. Fakta yang dipertontonkan secara arogan oleh pemerintah AS ini, telah membuat kepercayaan terhadap organisasi PBB berada dititik nadir atas ketidakberdayaan menghadapi negara adidaya.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!