Saat Isra Mi'raj, Apakah Nabi SAW Melihat Allah?
VISI.NEWS | BANDUNG - Isra’ dan Mi’raj menjadi salah satu peristiwa paling bersejarah dalam Islam, khususnya dalam perjalanan risalah Nabi Muhammad. Selain sebagai awal mula diwajibkannya shalat lima waktu, juga menjadi salah satu mukjizat Rasulullah yang paling agung.
Perjalanan yang sangat jauh dan sangat sulit untuk digambarkan dengan akal, bisa ia tempuh dengan tempo waktu yang sangat singkat, bahkan akal tidak bisa menerima kenyataan itu jika tidak dilandasi dengan keimanan yang matang.
Oleh karenanya, tidak heran jika peristiwa ini selalu diperingati oleh umat Islam dalam setiap tahunnya, khususnya pada tangal 27 Rajab mengikuti pendapat mayoritas ulama yang mengatakan bahwa Isra’ dan Mi’raj terjadi tepat satu tahun sebelum hijrahnya nabi dari Makkah ke Madinah, pada malam Senin, tanggal 27 Rajab. (Sayyid ath-Thanthawi, Tafsir al-Wasith li Al-Qur’anil Karim, , juz I, halaman 259).
Isra` adalah peristiwa ketika Allah swt memperjalankan Nabi Nabi Muhammd dari Masjidil Haram, Makkah, menuju Masjidil Aqsha di Paletina. Sedangkan yang dimaksud dengan Mi’raj adalah peristiwa berikutnya, yaitu dinaikkannya Nabi Muhammad melintasi lapisan-lapisan langit tertinggi sampai batas yang tidak dapat dijangkau pengetahuan malaikat, manusia, maupun jin.
Semua itu terjadi dalam satu malam. Perjalanan Isra’ Nabi Muhammad akhirnya diabadikan oleh Allah swt dalam Al-Qur’an, Dia berfirman:
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Artinya, “Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sungguh Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.” (Surat Al-Isra’ ayat 1).
Sebagaimana penjelasan para ulama tafsir, bahwa semua ayat yang dimulai dengan lafal subhana (Mahsuci), menunjukkan bahwa penjelasan atau khabar setelahnya merupakan peristiwa luar biasa yang tidak bisa bisa dicerna dengan akal manusia (khariqun lil ‘adah) yang serba terbatas, dan hanya Allah yang tahu rahasia di balik semua itu, termasuk isra’ mi’raj. (Syekh Mutawalli, Tafsir wa Khawathirul Umam lisy Sya’rawi, , juz VIII, halaman 156).
Dari dua pendapat di atas, pendapat manakah yang lebih layak untuk diyakini dan diikuti? Imam Nawawi mengatakan bahwa pendapat yang lebih unggul adalah yang mengatakan bahwa Rasulullah melihat Allah dengan kedua matanya yang mulia,
فَالْحَاصِلُ أَنَّ الرَّاجِحَ عِنْدَ أَكْثَرِ الْعُلَمَاءِ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ رَأَى رَبَّهُ بِعَيْنَىْ رَأْسِهِ لَيْلَةَ الْاِسْرَاءِ
Artinya, “Alhasil, (pendapat) yang unggul menurut mayoritas ulama, bahwa Rasulullah saw melihat Tuhannya dengan kedua mata kepalanya pada malam Isra’.” (Imam Nawawi, Syarhun Nawawi alal Muslim, , juz III, halaman 5).
Senada dengan pendapat Imam Nawawi di atas, Syekh Nawawi Banten juga menyatakan bahwa Rasulullah melihat Allah. Akan tetapi, yang dimaksud dengan “melihat” pada peristiwa itu tidak sebagaimana melihatnya manusia pada umumnya.
Menurutnya, pada peristiwa Isra’ dan Mi’raj Allah memberikan kekuatan pada kedua mata Rasulullah agar mampu melihat-Nya dengan penglihatan yang suci dan layak dengan Dzat-Nya Yang Mahasuci.
Syekh Nawawi juga mengutip pendapat sebagian ulama yang mengatakan bahwa yang melihat kepada Allah bukan kedua mata Rasulullah, akan tetapi hatinya. Allah memberikan kekuatan kepada hatinya agar bisa melihat-Nya sebagaimana penglihatan mata. (Syekh Nawawi, Nurud Zhalam Syarah Manzhumati ‘Aqidatil ‘Awam, , halaman 152).
Demikian penjelasan singkat seputar peristiwa Isra’ dan Mi’raj yang dilakukan oleh Rasulullah. Dengan mengetahuinya, semoga keyakinan dan keimanan kita akan kuasa Allah bisa semakin bertambah dan tertanam dalam hati, Amin.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!