Saat Industri Semen Lesu, Semen Merah Putih Justru Tancap Gas
Semen Merah Putih membawa narasi berbeda: sustainability bukan beban biaya, melainkan mesin pertumbuhan. /visi.news/ist
VISI.NEWS | JAKARTA - Di tengah tekanan berat yang membayangi industri semen nasional akibat kelebihan pasokan, penurunan permintaan, dan perlambatan proyek infrastruktur, PT Cemindo Gemilang Tbk (CMNT) melalui brand Semen Merah Putih justru tampil dengan strategi berbeda. Bukan sekadar bertahan, perusahaan ini mendorong model bisnis terintegrasi berbasis keberlanjutan yang diklaim mampu memperkuat efisiensi, daya saing, sekaligus ekspansi global.
Strategi itu menjadi sorotan dalam ajang INTERCEM Asia 2026 di Jakarta, forum strategis yang mempertemukan pelaku industri semen global, mulai produsen, trader, hingga investor. Di tengah industri yang sedang menghadapi tekanan struktural, Semen Merah Putih membawa narasi berbeda: sustainability bukan beban biaya, melainkan mesin pertumbuhan.
Langkah ini cukup kontras dengan situasi industri saat ini. Tingkat utilisasi industri semen nasional disebut hanya sekitar 51 persen akibat overcapacity, sementara permintaan pada 2025 tercatat turun sekitar 2 hingga 2,5 persen. Kombinasi tekanan domestik dan global itu membuat banyak pelaku industri lebih fokus pada efisiensi bertahan hidup. Namun, Semen Merah Putih mengklaim justru mencatat pertumbuhan 4,2 persen di wilayah operasional utamanya sepanjang 2025.
Commercial & Logistic Director PT Cemindo Gemilang Tbk, Surindro Kalbu Adi, dalam keterangan tertulis kepada VISI.NEWS, Selasa (28/4/2026), menyebut kunci menghadapi tekanan industri bukan hanya terletak pada kapasitas produksi, tetapi efisiensi sistem yang dibangun. Menurutnya, sustainability di perusahaan bukan semata agenda lingkungan, tetapi fondasi model bisnis.
Pendekatan ini tercermin dari sejumlah capaian. Sejak 2016, perusahaan mengklaim berhasil menurunkan intensitas karbon sekitar 21 persen seiring peningkatan efisiensi energi dan optimalisasi proses produksi. Salah satu andalannya adalah pemanfaatan Waste Heat Recovery System (WHRS) yang mampu menyuplai sekitar 24 persen kebutuhan energi produksi klinker, sekaligus memangkas emisi hingga sekitar 100 ribu ton CO2.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!