Rupiah Jebol Rp18.000 per Dolar AS, BI Buka Suara

Desi Rossilawati
Kamis, 4 Juni 2026 | 15:21 WIB
Bagikan
Rupiah Jebol Rp18.000 per Dolar AS, BI Buka Suara

Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti./visi.news/bloombergtechnoz.

VISI.NEWS | JAKARTA - Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan setelah menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS pada perdagangan Kamis (4/6/2026).

 Mata uang Garuda dibuka di posisi Rp18.016 per dolar AS, melemah 49 poin atau sekitar 0,27 persen. Kondisi ini sekaligus menempatkan rupiah pada titik terlemah sepanjang sejarah.

Menanggapi perkembangan tersebut, Bank Indonesia melalui Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menegaskan bahwa tekanan terhadap rupiah terutama berasal dari faktor eksternal yang masih membayangi perekonomian global. Salah satu pemicunya adalah kembali meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah yang dinilai menghambat prospek perdamaian dan berdampak pada berbagai sektor ekonomi dunia.

Menurut Destry, konflik yang terus memanas membuat harga minyak dunia bertahan pada level tinggi. Situasi ini memicu kekhawatiran terhadap kenaikan inflasi global serta mendorong investor menarik dana dari negara berkembang, termasuk Indonesia.

"Pelemahan nilai tukar masih dipengaruhi oleh tensi geopolitik Timur Tengah yang kembali tereskalasi dan menghambat prospek damai, sehingga mendorong harga minyak tetap tinggi dan meningkatkan risiko inflasi global serta arus dana keluar dari negara emerging," kata Destry dalam keterangan resmi, Kamis (4/6).

Selain tekanan dari luar negeri, kebutuhan valuta asing di dalam negeri juga masih cukup besar. Permintaan tersebut antara lain berasal dari repatriasi dividen perusahaan serta kewajiban pembayaran utang luar negeri yang jatuh tempo.

Untuk menjaga stabilitas pasar keuangan, Bank Indonesia menyatakan akan terus hadir di pasar dan meningkatkan langkah intervensi. Upaya tersebut dilakukan melalui transaksi Non Deliverable Forward di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non Deliverable Forward di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara di pasar sekunder.

"Bank Indonesia akan terus hadir di pasar dan meningkatkan intensitas intervensi untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar rupiah terjaga sesuai dengan fundamentalnya," ujar Destry.

Halaman :

1 2

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.