Rupiah Ditutup Menguat, Sentuh Rp17.933 per Dolar AS

Desi Rossilawati
Rabu, 5 Agustus 2026 | 16:15 WIB
Bagikan
Rupiah Ditutup Menguat, Sentuh Rp17.933 per Dolar AS

Nilai tukar rupiah./visi.news/ist.

Berdasarkan survei ADP, perusahaan swasta di Amerika Serikat diperkirakan hanya menambah 70.000 tenaga kerja pada Juli 2026, lebih rendah dibandingkan penciptaan 98.000 lapangan kerja pada Juni 2026. Apabila realisasi data menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja yang lebih rendah dari perkiraan, ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed diperkirakan akan semakin berkurang.

Dari dalam negeri, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 mencapai 5,29 persen secara tahunan (year on year/YoY). Berdasarkan besaran Produk Domestik Bruto (PDB), nilai PDB atas dasar harga berlaku pada kuartal II-2026 tercatat sebesar Rp6.552,1 triliun, sedangkan PDB atas dasar harga konstan mencapai Rp3.576,2 triliun.

Dengan capaian tersebut, ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 tumbuh 5,29 persen secara tahunan. Sementara secara kuartalan (quarter to quarter/QtQ), ekonomi tumbuh 3,73 persen dibandingkan kuartal I-2026. Adapun secara kumulatif semester I-2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (cumulative to cumulative/CtC), ekonomi tumbuh 5,45 persen.

Ibrahim menilai capaian tersebut berbanding terbalik dengan proyeksi sebagian besar ekonom yang sebelumnya memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 hanya berada di kisaran 4,8 persen hingga 4,9 persen. Proyeksi tersebut juga lebih rendah dibandingkan realisasi pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2026 yang mencapai 5,61 persen. Sebelumnya, perlambatan ekonomi diperkirakan dipicu oleh tingginya biaya produksi akibat gejolak global, pengetatan kebijakan moneter, serta ketidakpastian tata kelola fiskal di dalam negeri.

Sementara itu, BPS juga melaporkan Indonesia mengalami deflasi bulanan sebesar 0,14 persen pada Juli 2026. Meski demikian, inflasi tahunan masih berada di level 2,88 persen. Di tengah tekanan musiman akibat kenaikan biaya pendidikan pada awal tahun ajaran baru, penurunan harga pangan dinilai mampu menjadi faktor penyeimbang bagi pengeluaran masyarakat dalam jangka pendek.

Halaman :

1 2

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.