Rupiah Ditutup Menguat, Sentuh Rp17.933 per Dolar AS

Desi Rossilawati
Rabu, 5 Agustus 2026 | 16:15 WIB
Bagikan
Rupiah Ditutup Menguat, Sentuh Rp17.933 per Dolar AS

Nilai tukar rupiah./visi.news/ist.

VISI.NEWS - Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat pada perdagangan Rabu (5/8/2026). Mata uang Garuda terapresiasi 94 poin atau 0,52 persen ke level Rp17.933 per dolar Amerika Serikat (AS).

Penguatan tersebut melanjutkan tren positif sejak awal perdagangan. Rupiah dibuka pada level Rp17.972 per dolar AS, lebih kuat dibandingkan posisi penutupan sehari sebelumnya yang berada di level Rp18.027 per dolar AS.

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan penguatan rupiah didorong oleh sentimen positif dari perkembangan geopolitik di Timur Tengah serta perhatian pelaku pasar terhadap sejumlah data ekonomi dari Amerika Serikat dan Indonesia.

“Di sisi lain, pelaku pasar juga mencermati sejumlah data ekonomi AS dan Indonesia sebagai penentu arah pergerakan pasar keuangan,” ujar Ibrahim dalam keterangannya dikutip, Rabu (5/8/2026).

Ia menjelaskan, pasar merespons positif setelah Qatar pada Selasa (4/8/2026) menyatakan para mediator telah mencapai kemajuan dalam upaya mengakhiri perang. Perkembangan tersebut turut menekan harga minyak dunia, meskipun Teheran membantah pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut perundingan antara kedua negara telah berlangsung.

Harga minyak mentah Brent bahkan ditutup di bawah level 80 dolar AS per barel pada Selasa, untuk pertama kalinya sejak 13 Juli 2026. Sementara itu, Trump dan Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani juga membahas upaya memperkecil perbedaan antara Washington dan Teheran serta meningkatkan peluang tercapainya penyelesaian jangka panjang dalam percakapan telepon pada hari yang sama. Hal tersebut disampaikan Kantor Emir Qatar dalam keterangan resminya.

Sebelumnya, Trump mengatakan pada Senin bahwa perundingan dengan Teheran telah dimulai dan Iran memiliki “kesempatan terakhir” untuk mencapai kesepakatan. Namun, para pejabat Iran menegaskan hingga kini tidak ada negosiasi yang sedang berlangsung dengan Amerika Serikat.

Selain perkembangan geopolitik, pelaku pasar juga menantikan sejumlah data ketenagakerjaan Amerika Serikat sebagai petunjuk arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau The Fed. Investor kini menunggu rilis data Perubahan Ketenagakerjaan ADP pada Rabu malam dan data Nonfarm Payrolls (NFP) yang dijadwalkan terbit pada Jumat. Kedua data tersebut dinilai akan memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai kondisi pasar tenaga kerja AS sekaligus prospek kebijakan moneter The Fed.

Berdasarkan survei ADP, perusahaan swasta di Amerika Serikat diperkirakan hanya menambah 70.000 tenaga kerja pada Juli 2026, lebih rendah dibandingkan penciptaan 98.000 lapangan kerja pada Juni 2026. Apabila realisasi data menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja yang lebih rendah dari perkiraan, ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed diperkirakan akan semakin berkurang.

Dari dalam negeri, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 mencapai 5,29 persen secara tahunan (year on year/YoY). Berdasarkan besaran Produk Domestik Bruto (PDB), nilai PDB atas dasar harga berlaku pada kuartal II-2026 tercatat sebesar Rp6.552,1 triliun, sedangkan PDB atas dasar harga konstan mencapai Rp3.576,2 triliun.

Dengan capaian tersebut, ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 tumbuh 5,29 persen secara tahunan. Sementara secara kuartalan (quarter to quarter/QtQ), ekonomi tumbuh 3,73 persen dibandingkan kuartal I-2026. Adapun secara kumulatif semester I-2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (cumulative to cumulative/CtC), ekonomi tumbuh 5,45 persen.

Ibrahim menilai capaian tersebut berbanding terbalik dengan proyeksi sebagian besar ekonom yang sebelumnya memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 hanya berada di kisaran 4,8 persen hingga 4,9 persen. Proyeksi tersebut juga lebih rendah dibandingkan realisasi pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2026 yang mencapai 5,61 persen. Sebelumnya, perlambatan ekonomi diperkirakan dipicu oleh tingginya biaya produksi akibat gejolak global, pengetatan kebijakan moneter, serta ketidakpastian tata kelola fiskal di dalam negeri.

Sementara itu, BPS juga melaporkan Indonesia mengalami deflasi bulanan sebesar 0,14 persen pada Juli 2026. Meski demikian, inflasi tahunan masih berada di level 2,88 persen. Di tengah tekanan musiman akibat kenaikan biaya pendidikan pada awal tahun ajaran baru, penurunan harga pangan dinilai mampu menjadi faktor penyeimbang bagi pengeluaran masyarakat dalam jangka pendek.

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.