Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.710 per Dolar AS
Nilai tukar rupiah./visi.news/ist.
Dolar AS menguat setelah Ketua The Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh membuka peluang kenaikan suku bunga apabila inflasi tidak bergerak kembali menuju target 2%.
Dalam pidato perdananya di simposium Jackson Hole, Warsh menyampaikan bahwa The Fed masih memiliki pekerjaan yang harus dilakukan apabila tekanan inflasi belum mereda.
Pernyataan tersebut menjadi salah satu sinyal kuat bahwa kenaikan suku bunga dapat kembali diperlukan untuk mengendalikan inflasi.
Berdasarkan CME FedWatch, peluang kenaikan suku bunga The Fed sedikitnya 25 basis poin pada pertemuan September meningkat menjadi 57,5%, dari sekitar 35% sebelum Warsh menyampaikan pidatonya.
Ekspektasi terhadap suku bunga AS yang lebih tinggi meningkatkan daya tarik aset berdenominasi dolar. Kondisi tersebut berpotensi menahan aliran dana menuju negara berkembang dan memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah.
Dolar AS tercatat menguat hampir 0,9% sepanjang pekan lalu dan mencatat kenaikan mingguan terbesar dalam 10 pekan. DXY bahkan sempat menyentuh level 99,727, yang merupakan posisi tertinggi sejak 17 Agustus 2026.
Pasar Menanti Keputusan Terkait Pimpinan BI
Pelemahan DXY pada perdagangan Senin membantu rupiah bangkit dari posisi terlemahnya di level Rp17.755 per dolar AS. Namun, penurunan dolar AS belum cukup untuk membawa rupiah kembali ke zona penguatan.
Pergerakan rupiah pada perdagangan selanjutnya juga akan dipengaruhi perkembangan kebijakan moneter domestik.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!