Rupiah Anjlok, DPR Soroti Langkah BI dan Dampak ke Kelas Menengah
Rapat kerja Komisi XI DPR RI dengan Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo di Komisi XI DPR RI, DPR RI, Senayan, Jakarta, Senin (18/5/2026)./visi.news/indozone.
Selanjutnya, kritik juga datang dari Wakil Ketua Komisi XI DPR Hanif Dakiri. Ia menyoroti indikator capaian Bank Indonesia tidak selaras dengan fakta di lapangan. "Jadi kalau ini kan indahnya berarti indikator itu tercapai di atas target. Nah cuman kita memang kalau melihat di masyarakat kan sederhana Pak, masyarakat melihat rupiahnya tertekan, terus kemudian harga kebutuhan terasa mahal, kemudian ekonomi riil juga jalannya agak tersendat, sentimen ekonominya juga agak melemah kan yang dirasain di lapangan seperti itu," ujar Hanif. Lebih jauh, Hanif juga menyoroti Bank Indonesia yang menganggap rupiah stabil. Padahal, dia kembali menyatakan realita di lapangan tidak demikian. "Yang kedua, di dalam laporannya BI juga menyebut soal tercapainya stabilitas nilai tukar rupiah. Lagi-lagi seperti disampaikan juga oleh teman-teman bahwa publik melihat pelemahan yang apa cukup tajam rupiah terhadap dolar. Nah kita ingin minta penjelasan Pak sebenarnya definisi stabil menurut BI itu apa. Definisi stabil itu apa? Karena kalau di persepsi publik kan memang rupiahnya justru dianggap melemah secara signifikan," tutur dia.
Selanjutnya, anggota Komisi XI DPR lainnya Primus Yustisio juga memberikan kritik. Ia awalnya menyoroti fakta ekonomi bertumbuh tapi rupiah anjlok. "Yang berhubungan dengan tugas dan fungsi Bank Indonesia itu anomali. Pertumbuhan ekonomi kita 5,61%, tetapi nilai tukar Rupiah kita jeblok. Bahkan sekarang ada di level rekor terendahnya terhadap dolar. lndeks kita juga habislah, merosot turun. Di mana indeks seluruh dunia sejak perang tembak rudal itu tanggal 28 Februari, apa yang terjadi terhadap indeks dunia itu terjadi pada seluruhnya. Dan mereka sudah rebound, bahkan sudah plus. Dan Indonesia saat ini masih minus lebih dari 20%," tutur Primus. Ia lantas mengkritik Bank Indonesia lebih lanjut terkait rupiah juga melemah terhadap mata uang lain. Dia mempertanyakan apa yang terjadi dengan Indonesia. "Nah ini yang menurut saya, saya harus secara tajam pertanyakan. Terakhir kita ketemu juga di Bank Indonesia, itu saya juga mempertanyakan hal yang sama waktu itu di 16.800. Kenapa Rupiah kita ini lemah? Kalau dibandingkan dengan dolar, sekarang satu perbandingannya dengan dolar. Tapi faktanya dan ironisnya Pak, ini terhadap semua mata uang. Kita melemah terhadap Singapura, terhadap Australia, terhadap Ringgit, terhadap Real, apalagi Hong Kong Dolar, Euro," tegas Primus. Primus meyakini kondisi ini terjadi karena publik kehilangan kepercayaan terhadap Bank Indonesia. Ia pun meminta Perry bertanggung jawab untuk mundur. "Nah ini, ini kan harus kita lihat dengan realita Pak. Kita tidak bisa berdiam diri. Apa yang terjadi saat ini menurut saya pribadi Bank Indonesia saat ini sudah menghilangkan trust. Bank Indonesia sudah mengenyampingkan kredibilitasnya. Dan Anda sebagai pimpinan Bank Indonesia, sebagai tokoh utamanya, harus gentleman Pak. Harus berani melawan ada apa ini? Kenapa ini?" tanya Primus. "Pak Perry yang saya hormati, kadang-kadang Pak, kalau kita mengambil tindakan gentleman itu bukan penghinaan Pak. Saya berikan contoh mungkin saatnya sekarang Bapak mengundurkan diri. Selanjutnya terserah Bapak dan Dewan saja. Tapi itu bukan sikap penghinaan Pak. Anda akan lebih dihormati seperti di Korea ataupun di Jepang kalau Anda tidak bisa melakukan tugas Anda dengan baik seperti itu. Tidak ada salahnya," lanjut dia.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!