Riyono Soroti Ancaman Kemarau Panjang 2026 terhadap Ketahanan Pangan Nasional
Selain faktor global, Riyono juga menyoroti prediksi musim kemarau panjang pada 2026 yang sebelumnya disampaikan oleh BMKG. Menurutnya, ancaman utama dari kemarau adalah ketersediaan air untuk sektor pertanian.
Ia menekankan pentingnya perbaikan infrastruktur irigasi sebagai langkah utama mitigasi.
“Kalau jaringan irigasi kita baik, dampak kemarau bisa diminimalkan. Selain itu, embung dan bendungan harus siap sebagai sumber air,†katanya.
Riyono juga menegaskan bahwa Pulau Jawa memegang peran strategis dalam produksi pangan nasional, dengan kontribusi mencapai sekitar 80 persen.
Karena itu, kesiapan infrastruktur air di wilayah tersebut menjadi krusial, termasuk optimalisasi bendungan skala besar maupun kecil, serta penggunaan pompa air untuk mengakses sumber air tanah saat kemarau.
“Jawa tidak boleh terganggu, karena sebagian besar produksi pangan kita ada di sana,†ujarnya.
Ke depan, DPR mendorong pemerintah untuk mengurangi ketergantungan impor, khususnya pada komoditas strategis seperti kedelai dan gula. Salah satu langkah yang diusulkan adalah menekan volume impor secara bertahap dan meningkatkan produksi dalam negeri.
“Kita harapkan impor bisa dikurangi, minimal separuhnya, dan sisanya dipenuhi dari produksi dalam negeri,†pungkas Riyono. @givary
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!