Riyono Soroti Ancaman Kemarau Panjang 2026 terhadap Ketahanan Pangan Nasional
VISI.NEWS | JAKARTA - Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PKS, Riyono, menyatakan bahwa dinamika distribusi pangan global serta potensi musim kemarau panjang pada 2026 dapat mempengaruhi ketahanan pangan nasional, terutama dari sisi logistik dan ketersediaan air.
Menurut Riyono, sistem pangan tidak hanya dipengaruhi kondisi domestik, tetapi juga rantai pasok global, termasuk hubungan antara negara produsen dan konsumen serta aktivitas ekspor-impor.
“Distribusi pangan secara global itu pasti berdampak, mulai dari biaya logistik hingga harga bahan bakar. Semua itu berpengaruh pada harga dan ketersediaan pangan,†ujarnya kepada wartawan.
Meski demikian, Riyono menilai ketersediaan bahan pokok utama di Indonesia saat ini masih relatif aman. Komoditas seperti beras, gula, dan minyak masih dalam kondisi terkendali, meskipun beberapa di antaranya tetap terpengaruh dinamika global.
Ia menyebut produksi beras nasional mencapai sekitar 52 juta ton gabah kering giling atau setara 32 juta ton beras, yang dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
“Untuk beras dan jagung, kita sebenarnya sudah cukup. Yang masih bergantung pada impor itu komoditas sekunder seperti bawang putih, kedelai, gandum, dan gula,†jelasnya.
Riyono mengungkapkan bahwa impor gula Indonesia masih berada di atas 2 juta ton per tahun akibat keterbatasan produksi dalam negeri. Hal serupa juga terjadi pada kedelai yang masih bergantung pada pasokan luar negeri.
“Kalau kita ingin swasembada, kuncinya harus meningkatkan produksi dalam negeri,†tegasnya.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!