Jadwal Sholat Kabupaten Bandung Hari Ini, Kamis 27 Agustus 2026 27 Aug 2026 Prabowo ke Lokasi Gempa NTT, Pastikan Penanganan Cepat dan Terkoordinasi 26 Aug 2026 Melchias Markus Mekeng Ingatkan Risiko Salah Sasaran Pembatasan Pertalite Berbasis Desil 26 Aug 2026 Bank Mandiri Sampaikan Permintaan Maaf, Rekening Botok Dibuka 26 Aug 2026 TPA Cioray Tasikmalaya Terbakar, Lima Hektare Terdampak 26 Aug 2026 Satu dari Tiga Korban Pantai Karangpapak Ditemukan Meninggal 26 Aug 2026 Hadiri Pesta Biru, Farhan, "Kalau lihat dari pemain, optimis pisan" 26 Aug 2026 UAJY Raih Hibah United Board 2026, Bersama AMSI Perkuat Jurnalisme Biodiversitas 26 Aug 2026 7 Tempat Makan Enak Dekat Stasiun Padalarang 26 Aug 2026 Pendakian Gunung Lincing Malang Ditutup akibat Kebakaran Hutan 26 Aug 2026 Jadwal Sholat Kabupaten Bandung Hari Ini, Kamis 27 Agustus 2026 27 Aug 2026 Prabowo ke Lokasi Gempa NTT, Pastikan Penanganan Cepat dan Terkoordinasi 26 Aug 2026 Melchias Markus Mekeng Ingatkan Risiko Salah Sasaran Pembatasan Pertalite Berbasis Desil 26 Aug 2026 Bank Mandiri Sampaikan Permintaan Maaf, Rekening Botok Dibuka 26 Aug 2026 TPA Cioray Tasikmalaya Terbakar, Lima Hektare Terdampak 26 Aug 2026 Satu dari Tiga Korban Pantai Karangpapak Ditemukan Meninggal 26 Aug 2026 Hadiri Pesta Biru, Farhan, "Kalau lihat dari pemain, optimis pisan" 26 Aug 2026 UAJY Raih Hibah United Board 2026, Bersama AMSI Perkuat Jurnalisme Biodiversitas 26 Aug 2026 7 Tempat Makan Enak Dekat Stasiun Padalarang 26 Aug 2026 Pendakian Gunung Lincing Malang Ditutup akibat Kebakaran Hutan 26 Aug 2026

Riyono Soroti Ancaman Kemarau Panjang 2026 terhadap Ketahanan Pangan Nasional

Desi Rossilawati
Selasa, 14 April 2026 | 16:06 WIB
Bagikan
Riyono Soroti Ancaman Kemarau Panjang 2026 terhadap Ketahanan Pangan Nasional

VISI.NEWS | JAKARTA - Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PKS, Riyono, menyatakan bahwa dinamika distribusi pangan global serta potensi musim kemarau panjang pada 2026 dapat mempengaruhi ketahanan pangan nasional, terutama dari sisi logistik dan ketersediaan air.

Menurut Riyono, sistem pangan tidak hanya dipengaruhi kondisi domestik, tetapi juga rantai pasok global, termasuk hubungan antara negara produsen dan konsumen serta aktivitas ekspor-impor.

“Distribusi pangan secara global itu pasti berdampak, mulai dari biaya logistik hingga harga bahan bakar. Semua itu berpengaruh pada harga dan ketersediaan pangan,” ujarnya kepada wartawan.

Meski demikian, Riyono menilai ketersediaan bahan pokok utama di Indonesia saat ini masih relatif aman. Komoditas seperti beras, gula, dan minyak masih dalam kondisi terkendali, meskipun beberapa di antaranya tetap terpengaruh dinamika global.

Ia menyebut produksi beras nasional mencapai sekitar 52 juta ton gabah kering giling atau setara 32 juta ton beras, yang dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

“Untuk beras dan jagung, kita sebenarnya sudah cukup. Yang masih bergantung pada impor itu komoditas sekunder seperti bawang putih, kedelai, gandum, dan gula,” jelasnya.

Riyono mengungkapkan bahwa impor gula Indonesia masih berada di atas 2 juta ton per tahun akibat keterbatasan produksi dalam negeri. Hal serupa juga terjadi pada kedelai yang masih bergantung pada pasokan luar negeri.

“Kalau kita ingin swasembada, kuncinya harus meningkatkan produksi dalam negeri,” tegasnya.

Halaman :

1 2

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.