Prabowo ke Lokasi Gempa NTT, Pastikan Penanganan Cepat dan Terkoordinasi 26 Aug 2026 Melchias Markus Mekeng Ingatkan Risiko Salah Sasaran Pembatasan Pertalite Berbasis Desil 26 Aug 2026 Bank Mandiri Sampaikan Permintaan Maaf, Rekening Botok Dibuka 26 Aug 2026 TPA Cioray Tasikmalaya Terbakar, Lima Hektare Terdampak 26 Aug 2026 Satu dari Tiga Korban Pantai Karangpapak Ditemukan Meninggal 26 Aug 2026 Hadiri Pesta Biru, Farhan, "Kalau lihat dari pemain, optimis pisan" 26 Aug 2026 UAJY Raih Hibah United Board 2026, Bersama AMSI Perkuat Jurnalisme Biodiversitas 26 Aug 2026 7 Tempat Makan Enak Dekat Stasiun Padalarang 26 Aug 2026 Pendakian Gunung Lincing Malang Ditutup akibat Kebakaran Hutan 26 Aug 2026 Pendaftaran TKA SMA 2026 Dibuka hingga 27 September, Ini Syaratnya 26 Aug 2026 Prabowo ke Lokasi Gempa NTT, Pastikan Penanganan Cepat dan Terkoordinasi 26 Aug 2026 Melchias Markus Mekeng Ingatkan Risiko Salah Sasaran Pembatasan Pertalite Berbasis Desil 26 Aug 2026 Bank Mandiri Sampaikan Permintaan Maaf, Rekening Botok Dibuka 26 Aug 2026 TPA Cioray Tasikmalaya Terbakar, Lima Hektare Terdampak 26 Aug 2026 Satu dari Tiga Korban Pantai Karangpapak Ditemukan Meninggal 26 Aug 2026 Hadiri Pesta Biru, Farhan, "Kalau lihat dari pemain, optimis pisan" 26 Aug 2026 UAJY Raih Hibah United Board 2026, Bersama AMSI Perkuat Jurnalisme Biodiversitas 26 Aug 2026 7 Tempat Makan Enak Dekat Stasiun Padalarang 26 Aug 2026 Pendakian Gunung Lincing Malang Ditutup akibat Kebakaran Hutan 26 Aug 2026 Pendaftaran TKA SMA 2026 Dibuka hingga 27 September, Ini Syaratnya 26 Aug 2026

Risiko Gangguan Pendengaran Akibat Penggunaan Headset Berlebihan

Desi Rossilawati
Kamis, 20 Maret 2025 | 00:45 WIB
Bagikan
Risiko Gangguan Pendengaran Akibat Penggunaan Headset Berlebihan
VISI.NEWS | BANDUNG - Penggunaan perangkat audio seperti headset, earphone, dan headphone dalam durasi lama serta volume tinggi dapat meningkatkan risiko gangguan pendengaran pada remaja. Hal ini disampaikan oleh dr. Andrey Dwi Anandya, Sp.THT-BKL dari Universitas Sriwijaya dalam webinar Hari Pendengaran Sedunia 2025 yang diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan RI. Menurut dr. Andrey, gangguan pendengaran akibat paparan suara bising atau Noise-Induced Hearing Loss (NIHL) semakin sering terjadi pada remaja. Banyak dari mereka menggunakan perangkat audio untuk mendengarkan musik, menonton video, atau bermain gim tanpa menyadari bahwa paparan suara keras dalam waktu lama dapat menyebabkan kerusakan permanen pada pendengaran. Gangguan pendengaran ini berkembang secara bertahap dan sering tidak disadari. Beberapa gejala awal yang patut diwaspadai meliputi:
  • Kesulitan mendengar suara pelan atau konsonan tertentu seperti 'S', 'F', dan 'Th'.
  • Sulit memahami percakapan di lingkungan bising.
  • Munculnya suara berdenging di telinga (tinnitus).
  • Menurunnya kemampuan akademik akibat kesulitan memahami instruksi di kelas.
Selain dampak fisik, dr. Andrey menambahkan bahwa gangguan pendengaran juga berpengaruh terhadap kondisi sosial dan emosional. Remaja dengan masalah pendengaran rentan mengalami isolasi sosial, kesulitan berinteraksi dalam kelompok, serta berisiko menjadi korban perundungan karena dianggap tidak responsif. Berdasarkan data WHO, satu dari dua anak muda berisiko mengalami gangguan pendengaran akibat kebiasaan mendengar dengan volume tinggi. Untuk mencegahnya, dr. Andrey memberikan beberapa tips berikut: 1. Atur volume dengan bijak : Pastikan suara tidak lebih dari 60% dari tingkat maksimal perangkat audio. 2. Gunakan pelindung telinga : Jika berada di lingkungan bising seperti konser atau jalan raya, gunakan earplug. 3. Batasi durasi penggunaan headset : Istirahatkan telinga setiap satu jam dan hindari penggunaan saat tidur. 4. Manfaatkan fitur keamanan pendengaran : Gunakan aplikasi atau pengaturan di smartphone untuk mengontrol paparan suara. Selain langkah-langkah pencegahan, deteksi dini juga sangat penting. Oleh karena itu, remaja dan orang tua dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan pendengaran secara berkala. Menurut data Kementerian Kesehatan RI, Indonesia menempati peringkat keempat di Asia Tenggara dalam jumlah kasus gangguan pendengaran. Studi menunjukkan bahwa 16,8% remaja dan dewasa di Indonesia mengalami gangguan pendengaran, dengan angka yang terus meningkat setiap tahunnya. WHO memperkirakan bahwa 50% kasus gangguan pendengaran dapat dicegah jika masyarakat lebih sadar akan pentingnya menjaga kesehatan telinga. Oleh karena itu, dalam kampanye World Hearing Day 2025, Kementerian Kesehatan RI mengangkat tema 'Cegah Gangguan Pendengaran, Ayo Peduli' guna meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga pendengaran. "Gangguan pendengaran bukan hanya masalah orang tua, tetapi juga generasi muda. Mulai sekarang, kita harus lebih bijak dalam menggunakan headset dan menjaga kesehatan telinga agar kualitas hidup tetap optimal," tutup dr. Andrey. @ffr

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.