Ringkasan Kitab Maulidul Barzanji

ED
Minggu, 29 Desember 2024 | 03:43 WIB
Bagikan
Ringkasan Kitab Maulidul Barzanji

Oleh Gus Basir

DI ANTARA kitab puji-pujian kepada Rasulullah SAW yang sangat masyhur (terkenal) di Indonesia adalah Kitab Maulid Barzanji, yaitu kitab yang berisikan kisah perjalanan Rasullulah saw, puji-pujian kepadanya, serta doa-doa. Tidak hanya dijadikan bacaan ketika merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW saja, Maulid Barzanji juga dijadikan rutinan setiap malam Jum'at atau malam Senin oleh mayoritas masyarakat. Maulid Barzanji termasuk kitab maulid paling populer. Maulid satu ini tersebar ke pelosok negeri, mulai dari Arab dan semua negara Islam. Bahkan banyak kita jumpai orang-orang yang menghafalkannya.

Maulid Barzanji memiliki nama khusus, yaitu ‘Iqdul Jauhar fî Maulidin Nabiyyil Azhar, yang disusun untuk meningkatkan rasa cinta kepada Nabi Muhammad SAW. Namun seiring perkembangan zaman, kemudian lebih masyhur dengan sebutan Maulid Barzanji dengan penisbatan kepada pengarangnya.

Biografi Singkat Pengarang Maulidul Barzanji

Nama lengkapnya Sayyid Zainal ‘Abidin Ja’far bin Hasan bin ‘Abdul Karim al-Husaini asy-Syahzuri al-Barzanji. Beliau kelahiran Madinah al-Munawwaroh pada Kamis awal Dzulhijah 1128 H/1716 M. Sayyid Ja’far al-Barzanji wafat pada Selasa setelah shalat Ahsar 4 Sya’ban 1177 H/1763 M, dan dimakamkan bersama dengan kakeknya di Baqi’ menjadi satu dengan keturunan Rasulullah SAW yang lain.

Beliau memiliki nasab yang suci dan luhur, yaitu keturunan Rasulullah SAW melalui jalur Sayyid Baqir bin Sayyid Zainal ‘Abidin ibn Sayyidina ‘Ali ra dan Sayyidatina Fatimah az-Zahro' binti Rasulillah SAW. Menurut Syaikh Nawawi, Banten, nasab yang dimilikinya akan menjadi penyelamat kelak di akhirat dari siksa neraka dengan segala kesengsaraannya. (Muhammad Nawawi al-Bantani, Madarijus Shu’ud ilâ Iktisâ’il Burud, hal.3 ) Sayyid za'far al berjanji tumbuh besar dengan keilmuan. Semua waktu digunakan untuk mencari ilmu, menghafal Al qur'an dan menghafal hadist sekaligus memahaminya.

Dalam catatan sejarahnya, Sayyid Za'far menghafal Al Qur'an 30 juz kepada Syekh Isma'il Al Yamani dan di tashih kepada Syekh Yusuf Al Asha'idi. Setelah Al qur'an dihafalnya. Ia mulai belajar ilmu tafsir Al Qur'an dan Hadist. Selanjutnya mempelajari berbagai cabang-cabang ilmu lainnya kepada para ulama di masjid Nabawi Madinah.

Diantara guru-gurunya adalah Syekh Athaallah Bin Ahmad Al Azhari, Syekh Ahmad Abdul Wahab Ath Thontowi Al Ahmadi, Syek Ahmad Al Asybuli dan ulama-ulama lainnya. Dan setelah beliau alim baru diakui keluhuran, keagungan ilmunya oleh ulama-ulama zamannya.

Setelah perjalanan panjang dan melelahkan dalam menuntut ilmu, Sayyid Ja’far al-Barzanji menjadi mufti (ahli fatwa) madzhab Syafi’iyah di Madinah, yaitu saat usianya mencapai 31 tahun, sebagaimana disampaikan oleh Syekh Muhammad al-Qhot’ani :

وَعُمْرُهُ إِحْدَى وَثَلَاثِيْنَ عَامًا ثُمَّ صَارَ مُفْتِي الشَّافِعِيَّةِ فِي الْمَدِيْنَةِ الْمُنَوَّرَةِ وَخَطِيْبًا فَقَدْ كَانَ يَخْطُبُ فِي الْمَسْجِدِ النَّبَوِي الشَّرِيْفِ

Artinya, “Dan pada umur 31 tahun, Sayyid Ja’far al-Barzanji menjadi mufti ulama' madzhab Syafi’iyah di kota Madinah al-Munawwaroh, dan juga menjadi khatib di Masjid Nabawi yang mulia".

Sayyid Ja’far al-Barzanji merupakan ulama' yang punya suara merdu, tampan rupawan, mulia perilakunya, sangat sopan, tinggi cita-citanya, bersungguh-sungguh ketika membahas ilmu, dapat dipercaya. Karenanya, banyak orang-orang meminta pendapat dan fatwa kepadanya karna keluasan ilmunya. Syekh Abil Fadl Muhammad Kholil Bin Ali Al Murodi Mirnyifati Syayid Za'far sebagai pigur karismatik yang sangat alim, dan satu-satunya ulama yang luar biasa pada zamannya.

Sekilas Maulidul Barzanji

Pujian-pujian yang ditulis oleh Sayyid Ja’far al-Barzanji murni atas dasar kecintaannya kepada baginda Nabi Muhammad SAW sekaligus sebagai upaya untuk meningkatkan kecintaan umat Islam kepada Nabinya. Secara ringkas Maulidul Barzanji memiliki paparan sebagai berikut :

  • Menjelaskan silsilah keturunan Nabi Muhammad Saw sampai pada moyangnya yang bernama ‘Adnan.
  • Menjelaskan masa kecil dan kelebihannya saat itu.
  • Mengisahkan kisah Nabi Muhammad Saw saat ikut berdagang bersama pamannya ke kota Syam ketika berumur 12 tahun.
  • Pernikahannya dengan Sayyidah Khodijah Ra pada umur 25 tahun.
  • Pengangkatannya menjadi Rosul pada usia 40 tahun, dan dakwah Islamnya sampai umur 62 tahun.
  • Kemudian di akhir tulisan menjelaskan kewafatan Rasulullah SAW setelah semua tugasnya selesai secara sempurna.

Maulid Barzanji juga menjelaskan beberapa keistimewaan saat kelahiran Nabi Muhammad SAW. Di antaran, beliau lahir dalam keadaan bersujud, dalam keadaan bercelak, bersamaan lahir beliau, simbol-simbol kemusyrikan dihancurkn oleh Allah, seperti hancurnya kerajaan Kisra yang besar, padamnya api sesembahan orang-orang Majusi yang di yakini tidak dapat di padamkan oleh siapa pun selama ribuan tahun. Di saat itu pula hewan-hewan dan makhluk selain manusia merasakan kemuliaan dan keagungannya. Hal ini di tandai dengan berbuahnya semua pohon-pohon yang tidak pernah berbuah dalam rangka menghormati dan menyambut lahirnya makhluk yang paling baik dan mulia Nabi Muhammad SAW.

Shollu 'alan Nabi Muhammad... 

Keutamaan Maulidul Barzanji

Syaikh Muhammad Nawawi, Banten, dalam kitab Madârijus Shu’ûd mengatakan, Maulidul Barzanji laksana media yang mampu menjadi sebab datangnya berbagai kebaikan (sihrul halâl) dan orang yang membacanya akan mendapatkan keridhoan dari Alloh SWT.

Syaikh Nawawi Banten, seolah hendak mengatakan, "Dengan membaca Maulidul Barzanji orang akan mendapatkan keutamaan yang sangat banyak, diantaranya akan digampangkan semua urusannya, sebagaimana sihir, namun Maulidul Barzanji seolah sihir yang halal. Jika tujuan membacanya agar terhindar dari penyakit, maka ia akan dijauhkan dari penyakit oleh Alloh SWT. Tidak hanya itu, dengan membacanya, seseorang akan mendapatkan kehormatan berupa keridhoan dari Allah swt".

Cara Membaca Maulidul Barzanji

Cara membacanya, secara khusus yaitu dengan beberapa tahap sebagai berikut :

  • Membaca surat al-Fatihah dihadiahkan kepada Rosululloh SAW dan Sayyid Ja’far al-Barzanji.
  • Mengajak orang lain untuk bersama-sama membaca shalawat kepada Rasulullah SAW, sekaligus menyampaikan kepada mereka bahwa dengan membaca shalawat, oleh Allah akan diberikan ganjaran berupa surga dan segala kenikmatan di dalamnya, dengan membaca bacaan sebagai berikut :
  • اَلْجَنَّةُ وَنَعِيْمُهَا سَعْدٌ لِمَنْ يُصَلِّ وَيُسَلِّمُ وَيُبَارِكُ عَلَيه
  • Artinya : “Surga dan segala kenikmatannya merupakan kebahagiaan bagi orang-orang yang bersholawat, mendoakan keselamatan dan keberkahan baginya (Nabi Muhammad Saw).”
  • Setiap berpindah dari satu bab ke bab lain, sebagaimana tertera dalam Maulidul Barzanji, diakhiri dengan membaca bacaan berikut :
  • عَطِّرِ اللهم قَبْرَهُ الكَرِيْم بِعَرْفٍ شَدِيٍ مِنْ صَلَاةٍ وَتَسْلِيمٍاللهم صل وسلم وبارك عليه..
  • Artinya: Ya Allah berikanlah wewangian pada maqbaroh/ quburnya Nabi Muhammad yang Mulia# dengan wewangian dari shalawat dan salam..Ya Allah berilah shalawat, salam dan keberkahan padanya..

Dalam kitab Madârijus Shu’ûd ilâ Iktisâl Burûd sendiri merupakan kitab karangan salah seorang ulama' besar Makkah asal Nusantara (Banten), yaitu Syaikh Muhammad Nawawi al-Bantanî al-Jâwî Indonesia (1314 H/ 1897 M), yang merupakan komentar (syarah) atas teks (matn) Aqd al-Jauhar fî Maulid al-Nabî al-Azhar karangan Syaikh Ja’far al-Barzanji (w. 1117 H/ 1705 M).

Teks (matn) kitab maulid karangan al-Barzanji merupakan salah satu teks maulid yang paling popular di dunia Islam. Teks tersebut mengetengahkan sejarah hidup Kanjeng Nabi Muhammad SAW dengan sangat puitis dan mengandung unsur-unsur sastrawi yang indah. Di Nusantara, teks tersebut dikenal dengan nama “Maulidul Barzanji” yang kerap dibacakan dan dilantunkan di berbagai macam acara dan perayaan keagamaan.

Syaikh Nawawi Al Bantani menulis komntar (syarah) atas teks (matan) kitab Maulidul Barzanji dalam kata pengantarnya beliau mengatakan, jika beberapa handai taulan dan orang-orang dekatnya telah meminta untuk menulis sebuah komentar atas teks tersebut agar isi dan kandungn teks kitab "Maulidul Barzanji" dapat dipahami secara gamblang dan mudah. Beliau menulis "Setelah saya (selesai ) menulis komentar atas kitab maulid karangan Sayyid Zain Al Abidin yang berjudul Iqd Iqyan beberapa orang berprasangka baik pada saya. Berkali kali meminta pada saya untuk juga menulis komentar atas kitab maulid karangan Syekh Za'far (Al Barzanji) yang berjudul Jawahir Iqd atau Alburud yang mana komentar dan keterangan saya itu dapat mengungkap isi kitab, dan memudahkan para pelajar dari bangsa saya untuk memahaminya".

Dijelaskan oleh Syaikh Nawawi Banten, jika sebelumnya ia juga pernah menulis sebuah komentar (syarah) atas teks (matn) maulid lain, yaitu ’Iqdu ‘Iyân karangan Syaikh Zainal Abidin. Meski demikian, lanjut Syaikh Nawawi, teks maulid karangan al-Barzanji memiliki banyak kesitimewaan, yaitu nilai sastrawinya yang sangat tinggi.

Dikatakan oleh Syaikh Nawawi, bahwa “Maulid al-Barzanji banyak dibacakan dan dilantunkan di banyak negeri. Bagaimana tidak demikian, ia adalah pesona yang nyata, dan air yang bening menyegarkan”.

Meski demikian, lanjut Syaikh Nawawi Banten, keelokan sastrawi dari kitab Maulid al-Barzanji itu ibarat burung elok yang terbang hinggap di ranting-ranting pohon sambil bersenandung, tak lagi dapat ditangkap maknanya.

Dalam menuliskan komentar dan penjelasannya, Syaikh Nawawi Banten bersandar kepada beberapa kitab ulasan sejarah Nabi Muhammad SAW yang lain, seperti kitab al-Khullâshotul Mardhiyyah karangan Syaikh Yusuf Al Sunbulawani yang juga guru dari Syaikh Nawawi Banten, juga kitab Al Mawahibul Ladunniyah Bil Minah Al Muhamadiyyah karangan Syaikh Ahmad Al Qasthalani, dan juga kitab As Syifa Bil Huquqil Musthafa karangan Al Qodi Iyad.

Pada karangan akhir naskah/redaksi, Syaikh Nawawi menulis, jika kitab ini diselesaikan penganggitnya (titi mangsa) pada siang hari Sabtu, 19 Rabiul awwal 1293 H/ 15 April 1876 M. Teks kitab ini sudah berusia 243 tahun. Naskah tersebut baru di cetak 6 tahun kemudian yaitu pada bulan sya'ban 1297 H/juli 1880 M dipercetakan Amiriyah, Kairo, Mesir.

Melihat tahun percetakan yang merujuk angka 1880 M, maka kitab Madarijus Su'ud karangan Syaikh Nawawi Al Bantani ini terbilang satu dari belasan kitab Melayu-Nusantara yang saat itu mulai dicetak di Timur Tengah.

Pada tahun 1886, Orientalis belanda Christian Snaock Hurgronje berada di Mekkah dan bertemu dengan syaikh Nawawi Bantani, dilaporkan jika beberapa buah kitab Syaikh Nawawi sudah ada yang dicetak di Kairo Mesir. Nah, kitab Madarijus Su'ud ini salah satunya.

Allahumma sholli Ala Sayyidina Muhammad...

Mudah-mudahan dengan sekelumit isi dari kitab Maulid Barzanji bisa menambah semangat untuk menggali lebih luas tentang kelebihan Nabi Muhammad, sehingga akan tambahnya kecintaan kita terhadap Nabi SAW, dimana kecintaan kita telah tercapai maka seperti sabda Nabi, "Kita pun akan dicintainya oleh Nabi, dimana telah dicintai Nabi niscaya akan bersama sama ( kumpul ) di surganya Allah". Amiin.

  • Gus Basir Ketua LBM MWC NU Jatitujuh & Pimpinan Majelis Dzikir Sabilul Ghafilin, Sumur Wetan Cipaku, Jatitengah, Jatitujuh, Kabupaten Majalengka.

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.