RI Kena Tarif 19 Persen dari AS, Pemerintah Terus Negosiasi untuk Penurunan
Editor
Desi Rossilawati
Senin, 4 Agustus 2025 | 19:10 WIB
VISI.NEWS | JAKARTA - Menteri Perdagangan Budi Santoso menegaskan bahwa pemerintah masih terus melanjutkan proses negosiasi tarif perdagangan dengan Amerika Serikat (AS), menyusul keputusan Presiden AS Donald Trump yang menetapkan tarif resiprokal sebesar 19 persen terhadap produk Indonesia. Tarif tersebut akan mulai berlaku pada 7 Agustus 2025.
"Sekarang prosesnya masih berjalan ya, memang yang resiprokal kan kita dapet 19 persen itu berlaku tujuh hari setelah tanggal 31 Juli kalau pengumumannya ya. Dan sekarang proses negosiasi juga masih berjalan sebenarnya. Mudah-mudahan sebelum 1 September sudah selesai," ujar Budi dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (4/8/2025).
Budi menyebut pemerintah sedang mengupayakan penurunan tarif untuk sejumlah komoditas, terutama yang tidak dimiliki atau diproduksi oleh AS. Namun, ia belum merinci jenis produk yang dimaksud.
Meski dikenai tarif 19 persen, Budi menyatakan bahwa Indonesia tetap mempertahankan target ekspor tumbuh 7,1 persen tahun ini. Ia menilai tarif tersebut masih relatif rendah dibanding negara ASEAN lain, kecuali Singapura yang mendapat tarif 10 persen.
"Kalau kita lihat kita ini dapat tarif resiprokal 19 persen. Artinya ini tarif yang cukup bagus atau tarif yang kecil di negara-negara Asean, termasuk beberapa negara seperti Malaysia, Filipina, dan Thailand," tegasnya.
Namun, ia mengingatkan bahwa sistem tarif saat ini tidak lagi seragam seperti era Most Favored Nation (MFN), sehingga kompetisi antar negara menjadi tidak seimbang.
"Ketika kita mau memulai ekspor kita itu tidak mulai dari start-nya, tidak mulai dari nol lagi. Kenapa? Kalau dulu kita itu bersaing dengan negara lain pada level yang sama yaitu pada level tarif MFN. Nah sekarang kan berbeda-beda, ada yang tarif rendah, ada yang tarif tinggi," jelas Budi.
Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa tarif terhadap negara pesaing seperti China, Vietnam, dan India lebih tinggi, membuka peluang produk ekspor Indonesia tetap kompetitif. Saat ini, Kemendag sedang menganalisis 10 produk ekspor utama dan tarif masing-masing negara pesaing.
"Artinya kalau pasar ke Amerika tetap bergairah, tetap bagus berarti kesempatan kita akan semakin besar. Karena kita mendapat tarif yang lebih bagus dibanding negara lain," pungkasnya.
@ffr
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!