REFLEKSI | Wanita Hebat yang Menguatkan Nabi
Ketika Rasulullah SAW menceritakan semua peristiwa yang terjadi atas dirinya kepada istrinya, Khadijah. Istrinya, Khadijah radhiallahu ‘anha memberikan tanggapan yang luar biasa atas kejadian tersebut. Dengan yakin ia menanggapinya seperti yang dikisahkan Ibnu Hisyam (dalam as-Sirah an Nabawiyah, 1/236).
“Berbahagialah wahai putra pamanku dan teguhlah engkau. Demi Dzat yang jiwa Khadijah berada di tanganNya! Sungguh aku berharap engkau menjadi nabinya umat ini."
Yaa, Siti Khadijah, adalah wanita saleh yang sangat faham akan nubuat kenabian yang ia yakini, perihal akan datangnya seorang Nabi SAW yang ia tahu dari keyakinan atas informasi dari Alkitab, dan berita dari Waroqah bin Nuafal seorang alim masa itu yang sangat faham sekali akan bakal datangnya sosok sang terpilih.
Siti Khadijah sangat luar biasa dalam dukungannya kepada Rasulullah, beliau memberi ketenangan dan kekuatan bathin pada diri Sang Nabi, dalam masa-masa awal Nabi SAW menerima wahyu.
Ia Khadijah radhiallahu ‘anha, adalah seorang istri yang sangat taat pada suaminya, seorang pendamping hidup yang menerima, keyakinan baru, (bertauhid) beriman untuk hal tersebut.
Apalagi setelah ia mendatangi Waroqah bin Naufal, dan menceritakan kejadian yang terjadi atas diri sang suaminya, yang mendapat tanggapan mengejutkan dari Waroqah, bahwa suaminya adalah Sang Nabi untuk umat ini.
Khadijah radhiallahu ‘anha mengabarkan cerita suaminya kepada Waraqah bin Naufal. Waraqah menanggapi, “Quddus.. Quddus.. Demi Dzat yang jiwa Waraqah berada di tangannya, jika engkau jujur padaku wahai Khadijah, sungguh an-Namus al-Akbar telah datang menemuinya, yang dulu pernah mendatangi Musa. Sungguh dia adalah seorang nabi umat ini. Sampaikan padanya agar berteguh diri.” (Ibnu Hisyam dalam as-Sirah an-Nabawiyah, 1/236 dll.).
Siti Khadijah Radhiallahu 'anhu adalah orang yang pertama kalinya membenarkan risalah kerasulan Muhammad SAW, ia wanita yang paling mendukung perjuangan suaminya dalam mensyiarkan Islam pada penduduk Mekkah, yang masih Jahiliyah pada saat itu, dukungannya bukan hanya dengan support ruhani semata, namun dengan support jiwa, raga, dan hartanya pula.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!