REFLEKSI | Wanita Hebat yang Menguatkan Nabi
Oleh Bambang Melga Suprayogi, M.Sn.
SEBELUM di angkat menjadi Nabi dan Rosul, baginda Nabi Muhammad SAW, sudah seringkali melakukan uzlah, menyepikan diri dari keramaian, untuk mencari ketenangan bathin, dan kedamaian bagi qolbunya.
Bagi baginda Muhammad SAW, dorongannya untuk beruzlah, seperti suatu kebutuhan spiritual, yang mengajaknya mendaki tempat tersulit nan terjal, yaitu gunung Jabal Nur, dimana ia harus berjalan sejauh 7 kilometer ke arah wilayah Hijaz, dari tempatnya tinggal. Dan setelah sampai pun, ia harus menaiki gunung Jabal Nur itu, hingga ketinggian 645 meter, dibawah permukaan laut, untuk akhirnya sampai di sebuah gua yang sempit, yakni Gua Hira, tempat favorit Nabi SAW melakukan khalwat.
Dari melihat kemauannya untuk mengasingkan diri, mencari tempat yang tidak biasa, itu seperti suatu langkah yang tak disadari, bahwa ia Muhammad, sedang melakukan napak tilas, perjalanan pendahulunya, Nabi Musa, Nabi Ibrahim, dan pemuda Ashabul Kahfi, yang pernah melakukan hal yang sama, menyepi di dalam gua, untuk membangun dan menguatkan iman mereka kepada Sang Maha Kuasa, Allah SWT.
Hingga pada pengalaman uzlah yang kesekian kalinya, barulah ia kaget, sosok suci utusan langit, Malaikat Jibril, tiba-tiba telah berada di hadapannya dengan cahaya terang yang luar biasa menyilaukannya, dan membawa risalah kenabian dan wahyu untuknya. Pada malam hari itu yang dikenal sebagai Nuzulul Qur'an.
Setelah peristiwa tersebut berlangsung, Nabi pun kembali kerumahnya, ia berjalan diantara kegelapan fajar, dengan perasaan kalut, cemas, dan membawa rasa ketakutan yang sangat. Sesampainya di rumah, Nabi SAW yang dalam keadaan menggigil, demam, dan minta pada itrinya Siti Khadijah untuk menyelimuti dirinya, "Selimutilah aku, selimutilah aku."
Sedang badan Sang Nabi terus menggigil saking masih merasakan kejadian dari peristiwa luar biasa hebat yang ia alami, dan ia tak tahu, apakah sesungguhnya, kejadian yang baru saja teralaminya tengah malam tadi itu.
Melihat keadaan Rasul yang sangat menghawatirkan, dan mengagetkan, Siti Khadijah RA segera mendekap Rasulullah dengan lembut, dan berusaha menenangkan hati suaminya.
Ketika Rasulullah SAW menceritakan semua peristiwa yang terjadi atas dirinya kepada istrinya, Khadijah. Istrinya, Khadijah radhiallahu ‘anha memberikan tanggapan yang luar biasa atas kejadian tersebut. Dengan yakin ia menanggapinya seperti yang dikisahkan Ibnu Hisyam (dalam as-Sirah an Nabawiyah, 1/236).
“Berbahagialah wahai putra pamanku dan teguhlah engkau. Demi Dzat yang jiwa Khadijah berada di tanganNya! Sungguh aku berharap engkau menjadi nabinya umat ini."
Yaa, Siti Khadijah, adalah wanita saleh yang sangat faham akan nubuat kenabian yang ia yakini, perihal akan datangnya seorang Nabi SAW yang ia tahu dari keyakinan atas informasi dari Alkitab, dan berita dari Waroqah bin Nuafal seorang alim masa itu yang sangat faham sekali akan bakal datangnya sosok sang terpilih.
Siti Khadijah sangat luar biasa dalam dukungannya kepada Rasulullah, beliau memberi ketenangan dan kekuatan bathin pada diri Sang Nabi, dalam masa-masa awal Nabi SAW menerima wahyu.
Ia Khadijah radhiallahu ‘anha, adalah seorang istri yang sangat taat pada suaminya, seorang pendamping hidup yang menerima, keyakinan baru, (bertauhid) beriman untuk hal tersebut.
Apalagi setelah ia mendatangi Waroqah bin Naufal, dan menceritakan kejadian yang terjadi atas diri sang suaminya, yang mendapat tanggapan mengejutkan dari Waroqah, bahwa suaminya adalah Sang Nabi untuk umat ini.
Khadijah radhiallahu ‘anha mengabarkan cerita suaminya kepada Waraqah bin Naufal. Waraqah menanggapi, “Quddus.. Quddus.. Demi Dzat yang jiwa Waraqah berada di tangannya, jika engkau jujur padaku wahai Khadijah, sungguh an-Namus al-Akbar telah datang menemuinya, yang dulu pernah mendatangi Musa. Sungguh dia adalah seorang nabi umat ini. Sampaikan padanya agar berteguh diri.” (Ibnu Hisyam dalam as-Sirah an-Nabawiyah, 1/236 dll.).
Siti Khadijah Radhiallahu 'anhu adalah orang yang pertama kalinya membenarkan risalah kerasulan Muhammad SAW, ia wanita yang paling mendukung perjuangan suaminya dalam mensyiarkan Islam pada penduduk Mekkah, yang masih Jahiliyah pada saat itu, dukungannya bukan hanya dengan support ruhani semata, namun dengan support jiwa, raga, dan hartanya pula.
Sedangkan kondisi masyarakat Mekah pada saat itu, semua menentang dakwah kepada Rasulullah, penolakan yang didapatkan Nabi SAW, sangat luar biasa tinggi dari kaumnya, dan hanya sedikit yang percaya, kebanyakan orang-orang Mekah malah sangat mendustakannya.
Dengan keyakinannya yang kuat, Khadijah tetap bersama suaminya di tengah tekanan kaumnya . Ia menjadi penolong dan membela Rasulullah yang paling gigih, sekaligus menjadi istri yang paling menguatkan untuk Rasulullah, yang telah mendampinginya selama 25 tahun, sampai Siti Khadijah akhirnya wafat, di usia 50 tahun.
Sungguh Siti Khadijah adalah wanita hebat, wanita saleh, pemilik segala kehormatan seorang istri, semoga Allah meridhaimu wahai Ummul Mukminin Khadijah binti Khuwailid…Amin.***
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!