REFLEKSI | Waktu Kita
Ia menjadi kehampaan, kekosongan, dan ketidakberartian, yang tak ada jejak baik-baiknya dari kita. Dimana kesempatan yang telah datang menyapa diri kita lewat waktu, yang telah sangat baik hadir, dan mengajak kita untuk menunjukan arti keberadaan diri kita bahwa kita pernah ada, itupun kita abaikan.
Kita acuh, kita masa bodoh, kita benar-benar lalai, lupa pada waktu yang seharusnya kita pakai untuk menorehkan prestasi-prestasi kita.
Dan bagi kita yang lalai... Mereka yang tak memperjuangkan waktunya dengan baik, dalam menuntut ilmu, dalam mempersiapkan bekal hari esok, membangun skill keahlian diri, ia akan mengalami hidup yang berat di masa yang akan datang.
Ini seperti apa yang di ucapkan Imam Syafi'i, "Jika kamu tidak sanggup menahan lelahnya belajar maka kamu harus sanggup menahan perihnya kebodohan" - Imam Syafi'i.
Waktu menuntut kita menjadi orang besar, yang bisa berguna, bermanfaat, dan menjadi teladan kehidupan, sehingga pantas Nabi bersabda dalam haditsnya, " “Tuntutlah ilmu dari buaian (bayi) hingga liang lahat.” Ini agar derajat kita terangkat, baik di mata manusia, maupun di mata Tuhan.
Waktu menginginkan kita menjadi pendamping setianya. Bisa mengisinya dengan banyak kebermanfaatan diri, bisa menjadikan waktu sebagai kesempatan kita mengumpulkan amal saleh yang bermanfaat untuk bekal akhir hidupnya.
Adakah yang sadar akan hal ini ?
Saat malaikat maut penjaga kubur nanti bertanya, bukan kita yang akan menjawabnya pertanyaan mereka, tapi amal baik, amal saleh saat waktu kita hiduplah yang akan menangkis nanti kejamnya siksa kubur pada kita.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!