IKAPJ Santuni 448 Anak Yatim dan Dhuafa dalam Peringatan Maulid Nabi di Polije 28 Aug 2026 Dari Tenaga Honorer, Muhamad Dahlan Kini Pimpin SDN Girimekar dengan Program Pendidikan Berkarakter 28 Aug 2026 Harga Tiket Mahal, The Jakmania Boikot Laga Persija vs Brisbane Roar 28 Aug 2026 Hasil FP1 MotoGP Aragon 2026, Marc Marquez Tercepat 28 Aug 2026 Jadwal Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026 Lengkap 28 Aug 2026 Toyota Camry Terbakar di Tol MBZ Arah Cikampek 28 Aug 2026 Destry Damayanti Resmi Jadi Gubernur Bank Indonesia 2026-2031 28 Aug 2026 Pesawat Tempur F-16 Lalu-lalang di Jakarta, Ini Penjelasan TNI AU 28 Aug 2026 3 Faktor Gaya Hidup yang Bisa Picu Penuaan Dini 28 Aug 2026 Ahli Ungkap Waktu Tidur yang Tepat untuk Jaga Energi 28 Aug 2026 IKAPJ Santuni 448 Anak Yatim dan Dhuafa dalam Peringatan Maulid Nabi di Polije 28 Aug 2026 Dari Tenaga Honorer, Muhamad Dahlan Kini Pimpin SDN Girimekar dengan Program Pendidikan Berkarakter 28 Aug 2026 Harga Tiket Mahal, The Jakmania Boikot Laga Persija vs Brisbane Roar 28 Aug 2026 Hasil FP1 MotoGP Aragon 2026, Marc Marquez Tercepat 28 Aug 2026 Jadwal Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026 Lengkap 28 Aug 2026 Toyota Camry Terbakar di Tol MBZ Arah Cikampek 28 Aug 2026 Destry Damayanti Resmi Jadi Gubernur Bank Indonesia 2026-2031 28 Aug 2026 Pesawat Tempur F-16 Lalu-lalang di Jakarta, Ini Penjelasan TNI AU 28 Aug 2026 3 Faktor Gaya Hidup yang Bisa Picu Penuaan Dini 28 Aug 2026 Ahli Ungkap Waktu Tidur yang Tepat untuk Jaga Energi 28 Aug 2026

REFLEKSI | Waktu Kita

ED
Senin, 17 Oktober 2022 | 10:36 WIB
Bagikan
REFLEKSI | Waktu Kita

Oleh Bambang Melga Suprayogi

PERJALANAN waktu awal manusia, adalah dimulai sesaat setelah kelahirannya, ia terus berjalan seiring waktu, berkembang setiap saatnya, dari detik yang berdetak, menit yang genit merambat, dan jam yang teguh berganti.

Tak bisa dipungkiri, kita semuanya dibesarkan oleh sang siang maupun waktu malamnya, ditutup oleh sang waktu untuk umur awal kita, dan masuk pada umur berikutnya, lewat akhir tahun dan awalan waktu tahun penggantinya.

Yaa, itulah diri kita ini... Kita semua seperti anak-anak yang dibesarkan oleh sang waktu.

Sehingga kita pun diingatkan olehNya, untuk bisa berjanji pada waktu, "Demi Waktu, Demi Masa."

Janji Allah mengingatkan kita pada waktu, mengharuskan kita sadar pada keberadaan diri yang tak lepas dari bayangan waktu itu sendiri.

Waktu dan masa yang mengantarkan kita setiap saatnya, akan kita tinggalkan, dengan jejak waktu kita, dalam bayangan baik, atau buruk dari waktu yang kita telah tinggalkan itu.

Waktu untuk kita yang lalai, hanya meninggalkan kesia-siaan !

Ia menjadi kehampaan, kekosongan, dan ketidakberartian, yang tak ada jejak baik-baiknya dari kita. Dimana kesempatan yang telah datang menyapa diri kita lewat waktu, yang telah sangat baik hadir, dan mengajak kita untuk menunjukan arti keberadaan diri kita bahwa kita pernah ada, itupun kita abaikan.

Kita acuh, kita masa bodoh, kita benar-benar lalai, lupa pada waktu yang seharusnya kita pakai untuk menorehkan prestasi-prestasi kita.

Dan bagi kita yang lalai... Mereka yang tak memperjuangkan waktunya dengan baik, dalam menuntut ilmu, dalam mempersiapkan bekal hari esok, membangun skill keahlian diri, ia akan mengalami hidup yang berat di masa yang akan datang.

Ini seperti apa yang di ucapkan Imam Syafi'i, "Jika kamu tidak sanggup menahan lelahnya belajar maka kamu harus sanggup menahan perihnya kebodohan" - Imam Syafi'i.

Waktu menuntut kita menjadi orang besar, yang bisa berguna, bermanfaat, dan menjadi teladan kehidupan, sehingga pantas Nabi bersabda dalam haditsnya, " “Tuntutlah ilmu dari buaian (bayi) hingga liang lahat.” Ini agar derajat kita terangkat, baik di mata manusia, maupun di mata Tuhan.

Waktu menginginkan kita menjadi pendamping setianya. Bisa mengisinya dengan banyak kebermanfaatan diri, bisa menjadikan waktu sebagai kesempatan kita mengumpulkan amal saleh yang bermanfaat untuk bekal akhir hidupnya.

Adakah yang sadar akan hal ini ?

Saat malaikat maut penjaga kubur nanti bertanya, bukan kita yang akan menjawabnya pertanyaan mereka, tapi amal baik, amal saleh saat waktu kita hiduplah yang akan menangkis nanti kejamnya siksa kubur pada kita.

Kita seperti waktu, terus berjalan sampai pada masanya. Kita seperti waktu, berjalan seiringan dengan kesadarannya.

Ketika waktu kita terhenti, maka terhenti pulalah kesempatan kita untuk selanjutnya.

Maka isilah waktu sebaik-baiknya, sebelum nanti kita di ingatkan usia, diingatkan dengan keujuran, hingga sampai pada akhir nafas terakhir kita.

Berbahagialah untuk mereka yang menorehkan nama baiknya, maka harum namanya untuk terus di jaga sang waktu.

Walau jasad kita telah menyatu dengan tanah dan sudah tak berbekas, nama kita masih akan terus di ingat zaman, dan dikenang. Maka harumlah nama kita, laksana bunga yang wanginya semerbak mewangi.

Alhamdulillah.***

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.