REFLEKSI | Umat Gatelan

ED
Senin, 14 Maret 2022 | 09:13 WIB
Bagikan
REFLEKSI | Umat Gatelan

Oleh Bambang Melga Suprayogi

UMAT atau warga negara di kita khususnya yang muslim, sebagian besarnya adalah muslim wasathiyah, artinya muslim yang adil dan moderat, yang selalu menempatkan sesuatu pada tempatnya.

Muslim wasathiyah, merupakan gambaran muslim yang dewasa secara penggunaan nalar, sebagai bentuk kesempurnaan yang Allah berikan, bahwa bedanya manusia dan binatang ada pada kemampuan berpikirnya, dan cara menyikapinya.

Umat Islam di minta nabi untuk jadi teladan, sedangkan Allah menginginkan umatnya untuk bisa jadi rahmat bagi sekalian alam.

Itu sungguh suatu petunjuk, bahwa kita dalam setiap perbuatan, atau dalam memegang amanah, harus bisa menempatkan diri dalam koridor mampu berbuat adil, berpikir adil, bertindak adil, sehingga dalam persepsi kita nantinya, bisa melihat persoalan dengan jernih.

Kita sadar muslim di Indonesia khususnya, yang terafiliasi ke Ormas Islam yang besar, seperti Nadhlatul Ulama, Muhammadiyah, Persis, Syarikat Islam, Mathla'ul Anwar, dll. Adalah ormas yang mampu membina jamaahnya, untuk mampu mendayagunakan potensi berpikirnya, sehingga bisa berpikir wasathiyah, berpikir dewasa, adil, bijak, proporsional, dan akhirnya sampai pada maqom muslim yang moderat, dan maju menjadi muslim yang membawa rahmatan lil alamin, bagi seluruh alam.

Siapa ormas Islam yang bercirikan bendera wasathiyah ini ? Yaa, siapapun ormas Islamnya yang memang bisa membangun kesadaran pada pengikutnya, mampu menempatkan otak, nalar, dan pemahamannya, untuk bisa adil, tahu bagaimana melihat hal yang proporsional itu harus ditempatkan pada tempatnya yang benar.

Nah itu sebagian besar muslim wasathiyah yang ada dalam organisasi massa Islam, selalu ada pembinaan, mereka selalu dipahamkan, untuk memiliki kesadaran menjadi warga bangsa yang baik, patuh pada ulil amrinya.

Itu seperti apa yang dalam Al Qur'an surat Anisa ayat 59 di sebutkan, "Wahai orang-orang yang beriman! taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya".

Artinya apa, puncak kebaikan untuk umat ini, khususnya yang mengaku muslim di Indonesia adalah harus bisa taat, taat pada siapa ? Taat pada Allah. Taat Pada Rasul. Taat pada Ulil Amrinya, pemerintahan, penguasa negara.

Mengajak umat muslim, agar percaya pada ulil amrinya, ini ada dalam pengajaran, bimbingan, dan petunjuk guru, mursyid, ulama yang benar pada murid, dan santrinya !

Lalu bagaimana muslim lainnya yang tidak dalam gemblengan dan masuk kedalam organisasi-organisasi itu.

Ini masalahnya ! Itu kembali lagi ke manusianya, individu yang mengaku ia berislam.

Tuntunan dalam ia mendapatkan pemahamannya, pastinya tergantung gurunya....! Kembali ke siapa mursyid yang ia dengar, dan percayai. Dan jawabannya siapa gurunya ? Dimana ia dapatkan si gurunya itu ? Pahamnya seperti apa ? Moderat, atau ortodoks ? Dan jika konservatif juga, konservatif yang berlandaskan tuntunan yang menunjukan jalan menjadi umat yang rahmatan, atau konservatif yang selalu reaksioner, umat kalapan ! Inilah masalah terbesar bangsa kita, Indonesia.

Jika tadi umat terbesar yang masuk dalam umat Islam moderat lebih memiliki pandangan proporsional. Mari kita tilik saudara kita yang masuk ke wilayah umat dengan pemikiran konservatif. Ketika ia mendapatkan guru dengan pemahaman sempit, maka muridnya menjadi bernalar picik. Ketika gurunya cenderung mengedepankan berpikir pragmatis, muridnya akan bertindak anarkis, cenderung emosional, dan tak berpikir panjang. Ketika gurunya menyerukan jihad, maka muridnya tak berpikir duakali, langsung saja siap syahid, walau apa yang diperjuangkannya, bukan untuk kepentingan agama, tapi kepentingan gurunya.

Ya salah kaprah ini dimanfaatkan oleh oknum guru, mereka yang mengaku ulama, sehingga jumlah umat muslim yang masuk dalam golongan tak moderat ini, akhirnya jadi duri dalam daging bagi umat Islam itu sendiri...!

Buktinya mereka yang sedikit ini, selalu saja mewarnai hari-hari kita dalam bernegara, dengan narasi-narasi kebencian, provokasi, gemar menyudutkan pembangunan, dan kebijakan dalam pembenahan sistem yang sebelumnya tak proporsional, selalu jadi celah bahan, bullyan. Entah apa yang mereka mau ! Atau memang guru, ustad, ajengan, dan ulamanya, berharap santri atau muridnya dianjurkan untuk suul adab pada Ulil Amrinya. Masyaallah !

Suul Adab adalah gerakan khas kaum yang terbilang berjumlah sedikit dan sering nyinyir, dalam pergerakan umat Islam yang Moderat di Indonesia ini. Mereka umat gatelan, jika penulis bisa istilahkan.

Mereka golongan yang memiliki kepentingan politik dan motif terselubung, baik yang sudah berani terang terangan, dalam menyuarakan gerakan oposannya, setelah PKI sebagai partai terlarang.

Organisasi massa ini juga tak layak jadi referensi, bagi umat bernalar untuk masuk bergabung ke dalamnya, baik menjadi anggota atau simpatisannya. Berbahaya ! Sudah terlarang ! Layaknya PKI, pahamnya haram kita ikuti.

Yaa... Umat gatelan sekarang ini muncul meramaikan media sosial. Mereka mendapat celah setelah peristiwa pemelintiran informasi toa, yang disampaikan oleh menteri agama, Gus Yaqult, tak berhasil di jatuhkan, celah lain kembali mereka mainkan.

Lagi-lagi Menag kita, selalu buat jalan mereka muncul serempakan, bersamaan, dan koor-nya kompak dengan lagu seragam yang sama.

Seperti pada saat kebijakan toa di sampaikan, sekarang pengambil alihan kewenangan labelisasi halal, jadi bahan yang riuh dinyanyikan dengan suara sumbang.

MUI seakan patut dibela. Wajib diselamatkan ! MUI terancam, "jangan-jangan setelah dipreteli kewenangannya, MUI nanti di hapus keberadaannya !".Begitu ke khawatiran mereka pada pemerintah! Ironis kewenangan di ambil alih oleh pemerintah, dalam soal mempermudah masyarakat dalam pengurusan labelisasi halal, bagi produk yang masyarakat buat, di tanggapi berlebihan.

Dan pencabutan kewenangan MUI yang mencekik pengusaha kecil ketika produknya ingin mendapat cap halal, dan berbiaya tinggi, mulai 3 juta sampai 4 juta, di anggap ancaman pada MUI.

Padahal setelah dialihkan ke pemerintah, biaya labelisasi halal itu, hanya cukup mengeluarkan Rp. 650 ribu biayanya. Murahkan!. Biaya murah, prosesnya lebih cepat, masih dianggap salah !

Imbas pada pencabutan logo halal yang lama, di ganti logo halal yang baru, itu di jadikan masalah...!

Bom waktu sudah meledak sekarang !

Siap-siap akan ada demo -demo di Kemenag atau di gedung provinsi, DPRD, maupun di Istana Negara.

Sepertinya bakal ada pergerakan yang biasa harus dilakukan untuk menarik simpati, masyarakat Indonesia, dari apa yang dilakukan tim sorak umat kalapan ini.

Pokoknya, soal loga pastinya akan ada mobilisasi demo. Demonya pasti di hari Jum'at. Pengagasnya, dan yang majunya, pastinya itu-itu juga. Disinilah seluruh pemikiran mereka "kebek,"di tumpahkan nanti.

Yaa masalah logo jadi bahan pelajaran yang mengasikkan, semua sedang gandrung belajar, dan tiba-tiba menjelma jadi ahli logo dadakan.

Mas-mas, kenapa atuh dulu tak masuk ke sekolah Desain Komunikasi Visual, seperti penulis, agar bisa nanti jadi ahli buat identitas visual, semacam logo, dan bisa ngebranding.

Yang terjadi sekarang... Ustad onoh mengomentari logo halal. Orang yang bukan ahlinya menelisik kekurangan logo baru. Masyarakat awam yang bukan pakar branding dan ahli identitas visual tiba-tiba jadi ahli logo. Tukang gambar, komikus, yang kerjanya biasa ribet ngomik, tiba tiba meluangkan waktunya, bernyinyir ria, soal logo yang itu bukan bidangnya, "hahah, mani rujit!"

Yahh semua jadi ahli dadakan logo saat ini. Asik dinikmati sih... Tapi ruwet jika ngomong atau ngomentari kepolosan mereka, yang teramat sangat memperlihatkan mereka ternyata bukan ahlinya.

Coba kita dudukan secara proporsional kembali, apa yang jadi kewenangan pemerintah. Apa yang jadi kewenangan warga bangsa. Semua ada ahlinya. Semua sudah hasil godogan dan pemikiran para ahlinya.

Jadi ketika kita ngomong dan ngelantur bicara omong kosong soal logo, dan kewenangan, kita sudah seperti macan ompong yang parau tak terdengar suaranya. Jadilah ahli dalam bidangnya masing-masing ! Jangan terlihat bodoh mengomentari kebijakan yang sudah di putuskan Ulil Amri kita.

Suul Adab bila kita pelihara kebencian, dan selalu buat "riweh," negara, maka kacaulah negeri ini seperti apa yang mereka inginkan.***

  • Penulis, Bambang Melga Suprayogi, S.Sn., M.Sn., adalah dosen di Telkom University (2012 – Sekarang), Ketua Bidang Dewan Kemamuran Masjid DMI Kab. Bandung (2021-2026), Pengurus Lakpesdam NU Kab. Bandung (2017-2021), Pembina UKM Comik Balon Kata (2012 – Sekarang), Ketua RW 17 Kelurahan Manggahang Kec. Baleendah (2012) dan Ketua Paguyuban Masyarakat BSI 2008. Juga pernah juara I Ilustrasi cover buku IKAPI DKI Jakarta (2006) dan juara 2 Lomba penulisan buku bacaan anak TK/SD tingkat Nasional PUSBUK (2008)

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.